MEMBANGUN PNJ YANG BERKUALITAS

PENGELOLAAN DAN KEPEMIMPINAN PNJ MENUJU

TARAF INTERNASIONAL  (segera terbit)

Oleh:

Kusumo Dradjad,S. ST, MSi Dosen Jurusan Teknik Sipil-PNJ

 (artikel ini termasuk dalam juara 6 besar dalam ulang tahun ke 24 PNJ tahun 2006) 

MEMBANGUN PNJ YANG BERKUALITAS SESUAI DENGAN TUNTUTAN INDUSTRI NASIONAL SAAT INI DAN MASA DATANG

 (Juara ke-2 penulisan ilmiah Lustrum ke-5 PNJ tahun 2007)

Oleh: Kusumo Dradjad ST, MSi

I. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Memperbincangkan perkembangan pendidikan politeknik tidak lepas dari tuntutan sumber daya manusia (SDM) industri nasional sebagai stake holder. Kebijakan industrialisasi telah berlangsung dari awal Orde Baru hingga era saat ini. Kebijakan ini, seperti dilakukan negara-negara maju lainnya, diharapkan mampu melahirkan struktur industri nasional yang tangguh dan mandiri, untuk itu secara nasional dilakukan berbagai upaya di dalam peningkatan SDM agar menjadi berkualitas, pintar dan tangguh yang dapat bersaing di tingkat nasional dan internasional.
Pada masa kini dan masa mendatang Indonesia dihadapkan kepada masalah yang sangat serius dalam menghadapi tantangan peningkatan kualitas SDM sebagai bagian dari national competitiveness. Menghadapi tantangan dengan dibukanya pasar bebas melalui pelaksanaan WTO, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) harus mampu mempersiapkan dirinya menghadapi pasar dunia berkualitas. PNJ dituntut dapat mempersiapkan tenaga profesional dengan kompetensi tinggi untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia yang tepat sasaran di dalam mengisi kebutuhan industri nasional khususnya dan indsutri internasional pada umumnya.
PNJ sebagai institusi pendidikan vokasi dengan layanan berbagai disiplin ilmu, tentunya harus memiliki suatu konsep penyelenggaraan program yang fleksibel tidak statis, mengingat perkembangan teknologi di dunia industri sangat cepat kemajuannya.
Kondisi perekonomian, teknologi dan kebijaksanaan pemerintah saat ini sudah banyak berubah sehingga perlu dilihat kembali apakah Statuta PNJ dengan penjabarannya berupa Renstra PNJ masih relevan apa tidak. Karena Statuta bukan barang yang dikramatkan atau disakralkan, maka tidak ada masalah apabila dilakukan penyempurnaan kembali, agar menjadi suatu program yang terarah dan terintegrasi menuju satu fokus utama. Statuta PNJ merupakan cerminan mau seperti apa PNJ dimasa kini dan dimasa datang.
Lulusan PNJ harus dibekali dengan pengetahuan, ketrampilan dapat bekerja inovatif serta memiliki kemampuan kewirausahaan serta mampu bekerja mandiri. Pencapaian tujuan tersebut dapat terlaksana apabila ada perencanaan secara komprehensif dan berkelanjutan serta adanya dukungan pengelolaan, sistem, SDM dan fasilitas terkelola dengan baik.
Mengantisipasi paradigma pendidikan dimasa mendatang dan persaingan global, PNJ telah memiliki Visi (Statuta PNJ 2005-2009) yang menyatakan: “Politeknik Unggul Bertaraf Internasional dalam Bidang Rekayasa dan Tata Niaga.” dan sebagai jabaran Misi PNJ memfokuskan kepada tiga pilar utama yaitu: pengembangan sumberdaya manusia, program pendidikan, dan lulusan dengan kemampuan dan wirausaha. Dengan prinsip tadi Misi PNJ ditetapkan menjadi:
a) Menghasilkan dan mengembangkan sumber daya manusia profesional yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b) Sebagai institusi pendidikan vokasi yang berperan aktif dalam meningkatkan keahlian dan keterampilan yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi terapan.
c) Menghasilkan tenaga terampil berkualitas, berjiwa wirausaha, mandiri, berbudaya dan berwawasan lingkungan serta mampu bersaing di tingkat Internasional.
d) Meningkatkan kemampuan penciptaan karya nyata di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi terapan yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.
Visi dan Misi tidak ada artinya apabila di dalam pelaksanaan pengelolaan program-program yang dilakukan PNJ tidak mengarah kepada Visi dan Misi tersebut. Selain itu seberapa besar parameter-parameter pencapaian program yang telah dilakukan dapat diukur.

1.2. Permasalahan
Adanya tuntutan eksternal yang berasal dari perubahan lingkungan secara global, yang mempengaruhi pangsa pasar tenaga kerja di Indonesia. PNJ sebagai Lembaga Pendidikan yang menghasilkan tenaga vokasional, harus mampu menghasilkan tenaga kerja yang mempunyai daya saing tinggi sehingga dapat mengisi peluang kerja yang ada. Untuk mencapai target tersebut, perlu adanya program peningkatan kompetensi lulusan yang disertai rencana kegiatan mengarah kepada pencapaian target yang diharapkan. Konsekuensi dari program ini adalah dibutuhkan dukungan dana yang tidak sedikit, sehingga dibutuhkan kolaborasi anggaran dari berbagai sumber yang digunakan secara effektif dan effisien.
Permasalahan yang dihadapi oleh PNJ dalam era globalisasi adalah keterbatasan dana pendidikan, kesiapan SDM dan fasilitas pendidikan yang relevan dengan dunia industri. Permasalahan yang lain adanya dampak globalisasi dan libralisme pendidikan yang terjadi membuat PNJ menjadi tak berdaya apabila berkompetisi dengan politeknik yang baru didirikan dan perguruan tinggi lain dari dalam negeri maupun dari negara lain.
1.3. Perumusan masalah
Dengan mengetahui potret diri PNJ dan tantangan serta dampak dari globalisasi dan libralisme dalam dunia pendidikan, PNJ dapat membangun dan merealisasikan misi dan visinya menuju PNJ yang berkualitas dan menjadi tumpuan industri nasional.
Bagaimana apabila links and match yang telah ada antara PNJ dengan industri dan asosiasi profesi lebih ditingkatkan menuju kerja sama (MoU) dalam penyusunan kurikulum, pembuatan program pelatihan dan sertifikasi ketrampilan / keahlian serta upaya peningkatan sarana prasarana PNJ.

II. Pembahasan
Pemahaman tantangan dan peluang yang dikaitkan dengan arah pengembangan pendidikan vokasi, baik pada tingkat pendidikan menengah dan politeknik atau pendidikan tinggi , adalah terkait dengan aspek relevansi proses dan hasil pendidikan terhadap kebutuhan stake holder. Keberhasilan relevansi dari institusi pendidikan yang merupakan institusi persemaian iptek, diukur dari kinerja lulusannya dalam melaksanakan profesinya berbekal muatan pengetahuan kompetensi dan metoda pemuatan pengetahuan tersebut.
Dalam konteks muatan pengetahuan, mahasiswa PNJ perlu dibekali pengetahuan untuk menangani kebutuhan saat ini serta kemampuan memprediksi kebutuhan perkembangan peradaban masyarakatnya dimasa mendatang. Dengan demikian kata kunci proses pendidikan vokasi di PNJ adalah adanya lingkungan kondusif untuk meningkatkan kreatifitas mahasiswa yang berkelanjutan dan menjadikan mereka selalu berpikir menciptakan lapangan kerja. Lingkungan kondusif hendaknya dapat memberi peluang mahasiswa untuk mengkombinasikan peluang, resiko, inovasi, kepemimpinan, kemampuan dan ketrampilan, baik secara individu ataupun secara kelompok, agar menjadi suatu unit yang mampu menghasilkan dan menerapkan kreatifitas dalam dunia usaha.
Masa globalisasi dan teknologi yang semakin canggih sudah tidak lagi mempunyai hambatan tentang jarak dan waktu. Orang dapat melakukan pengembangan diri cukup dalam suatu ruangan yang dilengkapi dengan seperangkat komputer yang terkoneksi dengan internet. Bahkan tidak sekedar mengembangkan diri saja namun orang dapat mempunyai usaha, berbisnis apa saja melalui ruangan tersebut. Teknologi Informasi sedemikian cepat perkembangannya, yang menjadi pertanyaan, siapkah PNJ menghadapi keadaan seperti ini?
Beberapa jurusan di PNJ telah terakriditasi A dan B dari BAN PT artinya secara tidak langsung efisien internal manajemen Jurusan telah dapat dipenuhi. Peningkatan berkelanjutan sangat diperlukan untuk dapat mengikuti perkembangan pengaruh global. Namun demikian PNJ tidak boleh lupa diri bahwa institusi PNJ secara keseluruhan belum menunjukan kinerja yang baik terbukti belum mendapatkan akreditasi institusi dan belum mendapatkan sertifikat Sistem Manajemen Mutu ISO 2000-9001. PNJ sudah saatnya mempunyai keberanian menerapkan perangkat yang dapat diterapkan untuk mendukung proses jaminan mutu, mengingat pengalaman pengelolaan yang dimiliki selama ini dengan usianya yang ke-25 tahun pada saat ini.
Ruang lingkup penerapan jaminan mutu di PNJ dapat dimulai dengan cara melakukan membuat evalusai diri yang komprenhensif secara menyeluruh, melakukan pemetaan proses, misalnya menyangkut sistem pembelajaran dan sistem mutu layanan atau administrasi.
Membangun PNJ untuk menjadi politeknik yang unggul, berkualitas dan dapat menjadi tumpuan industri nasional tidak akan dapat terwujud apabila tidak pernah ada pengakuan menjadi yang terbaik dari stake holder, institusi terkait dan masyarakat umum. Maka menjadi penting bagi PNJ untuk segera melakukan Akreditasi BAN dan melaksanakan jaminan mutu ISO 2000-9001.
PNJ harus memiliki penjamin mutu minimal (minimum quality assurance) dalam satu kerangka yang jelas agar setiap mahasiswa mempunyai kesempatan belajar secara optimal untuk ditantang dengan persoalan keilmuan dengan tradisi berpikir secara ilmiah. Minimal pendidikan membutuhkan kualitas dosen, peralatan sekolah, buku referensi, laboratorium, kurikulum yang berkualitas.
Kerja keras membangun PNJ disegala bidang mejadi tanggung jawab pimpinan dan seluruh sivitas semua yang ada didalamnya. Sulit membangun PNJ karena alasan keterbatasan dana di dalam membangun PNJ seperti yang dijelaskan pada permasalahan di atas merupakan alasan klsasik. Jika akan membangun PNJ selalu berlindung dari keterbatasan tersebut, maka PNJ akan tetap seperti sekarang ini dan bahkan situasinya dapat menjadi lebih parah lagi.
Oleh karena itu gunakan potensi kerja sama industri untuk merancang suatu konsep PNJ yang relevan pada masa kini dan masa datang. Konsep tersebut harus terintegrasi dari seluruh unit di PNJ yang nantinya dijadikan suatu master plan Polecy (MPP).
Apabila MPP PNJ telah terbentuk, siapapun yang menjadi pimpinan dan pejabat struktural diharapkan melaksanakan program-program yang telah menjadi kebijakan tersebut. Tentunya di dalam menjalankan program-program dalam MPP pimpinan atau pejabat struktural PNJ dapat menjalankanya dengan inovasi dan teknik pengelolaan sesuai dengan kahlian masing-masing.
Membangun PNJ tidak dapat dilakukan dengan cara esidentil atau parsial-parsial, melainkan membangun PNJ harus mengikuti suatu konsep yang terintegrasi dengan cakupan pengembangan yang terarah sehingga kebutuhan SDM berkualitas industri dapat disediakan.
Cakupan di dalam membangun PNJ untuk menjadi berkualitas dan menjadi tumpuan industri nasional antara lain dibidang software dan bidang hardware.
2.1. Membangun PNJ dibidang Software
Membangun PNJ dibidang software adalah membangun PNJ dibidang perangkat lunak antara lain meliputi:
a. Pengembangan dan peningkatan program studi menjadi Politeknik Plus
Di dalam mengembangkan dan peningkatan program studi di PNJ tentunya tidak dapat dilakukan sendiri oleh PNJ maupun jurusan-jurusan yang ada di PNJ sendiri . Program ini dapat dilaksanakan dengan langkah pertama adalah membangun link and matchs atau membangun jaringan kerja sama dengan industri nasional maupun internasional.
Selanjutnya bersama-sama industri, asosiasi profesi dan instansi pemerintah yang terkait dimembuat program-program studi yang relevan pada masa kini dan masa datang. Selain dari itu program studi yang telah ada perlu dievaluasi kembali apakah masih relevan atau tidak.
Karena program studi yang dibentuk adalah hasil dari konvensi bersama antara PNJ, industri, asosiasi dan instansi terkait tentunya kurikulum dibuat banyak bermuatan kompetensi kerja yang dibutuhkan oleh industri.
Muatan kompetensi kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri tersebut dapat ditempuh dengan jenjang masa studi, apakah membutuhkan waktu tiga tahun sebagai program DIII atau empat tahun sebagi DIV.
Program DIII maupun DIV PNJ yang terbentuk dengan kurikulum bermuatan kompetensi kerja industri di rancang sedemikian rupa, sehingga mahasiswa yang telah menguasai kompetensi kerja dapat menempuh uji sertifikasi profesi keahlian atau uji sertifikasi ketrampilan.
Mengapa lulusan PNJ perlu mendapatkan sertifikat keahlian atau sertifikat ketrampilan, karena seperti yang diamanahkan dalam undang-undang ketenagakerjaan bahwa tenaga kerja industri harus memiliki keahlian atau ketrampilan sesuai dengan kompetensi kerja yang dinyatakan dengan sertifikat.
Adapun sebagai penyelenggara uji kompetensi sertifikasi keahlian/ ketrampilan di Indonesia adalah asosiasi profesi dan yang mengeluarkan sertifikat adalah lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah, sebagai contoh LPJK (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi) dan BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi)
Oleh karena itu mahasiswa PNJ akan berbeda dengan mahasiswa politeknik lain, hal ini disebabkan karena kurikulum yang ditempuh berbeda. Selanjutnya mahasiswa pada masa studi atau telah menjadi alumni dapat mengikuti uji kompetensi sertifikasi keahlian/ ketrampilan untuk mendapatkan Ijasah Diploma dan Sertifikat Keahlian/ Ketrampilan.
Ijasah Diploma dan Sertifikat Keahlian/ Ketrampilan serta program-program kompetensi di dalam program studi inilah yang menjadikan PNJ menjadi POLITEKNIK PLUS.
b. Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi dan wirausaha
Kurikulum program DIII dan DIV di PNJ yang dijalankan saat ini perlu dilakukan evalusai secara menyeluruh. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa kurikulum jalur pendidikan vokasi yang baik adalah kurikulum yang dapat mencetak SDM sesuai dengan kompetensi kerja pada industri.
Di dalam melakukan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi PNJ bersama-sama industri, asosiasi dan instansi pemerintah yang terkait membuat rancangan mata kuliah dan silabus beserta masa studi dan besarnya SKS. Pada saat melakukan rancangan kurikulum yang perlu diperhatikan adalah kaitan antara mata kuliah dan silabusnya tidak saling overlap dengan tujuan mahasiswa dapat menguasai kompetensi utama.
Mencetak lulusan PNJ yang dapat bekerja di industri sesuai dengan kompetensi kerja tentunya menjadi harapan seluruh siviats PNJ. Namun demikian PNJ akan lebih bangga apabila para mahasiswa dan alumninya memiliki jiwa wirausaha. Dengan memiliki jiwa wirausaha maka para alumni PNJ dapat menciptakan lapangan kerja sesuai dengan inovasi dan keahlianya masing-masing. Alumni PNJ apabila dapat menciptakan lapangan kerja yang mandiri berarti telah turut dalam menjalankan program pemerintah di dalam menanggulangi tingkat pengangguran nasional.
Oleh karena itu PNJ selain merancang kurikulum yang berbasis kompetensi diperlukan tambahan keahlian kewirausahaan. Ilmu kewirausahaan sebaikanya diberikan kepada mahasiswa PNJ tidak hanya sebagai ilmu pengetahuan saja, melainkan ilmu kewirausahaan yang aplikatif. Dibuatkan program-program kewirausahaan agar mahasiwa dapat berwirausaha sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Program-program ini sedapatmungkin dihubungkan dengan pihak industri, dengan demikian maka mahasiswa sudah dikenalkan dengan dunia bisnis yang nyata. Kewirusahaan sebaiknya dikenalkan kepada mahasiswa sejak semester awal, mengapa demikian karena diharapkan dengan mengetahui ilmu kewirausahaan sejak dini mahasiwa selama di PNJ akan selalu berpikir inovatif untuk dapat melakukan bisnis dengan keahlian yang ditekuni.
Dengan kurikulum yang berbasis kompetensi yang dilengkapi dengan kewirausahaan diharapkan alumni PNJ tidak akan mengalami kesulitan kerja setelah terjun dimasyarakat nantinya.
c. Pengembangan program pelatihan
Sebagai perwujudan kerja sama antara PNJ, industri, asosiasi profesi dan instansi pemerintah yang terkait dibuatkan rancangan program-program pelatihan bersama secara berkesinambungan.
Dengan melakukan program-program pelatihan tersebut existensi PNJ akan terlihat di masyarakat dan kredibilitas PNJ akan menjadi terangkat.
Pelatihan-pelatihan tersebut dapat diikuti oleh mahasiswa atau masyarakat umum baik yang akan melakukan uji kompetensi sertifikasi keahlian/ keterampilan atau yang sefatnya pengembangan keilmuan.
Keuntungan lain yang dapat diperoleh PNJ adalah jaringan kerja yang semakin membesar dan keuntungan finansial apabila program pelatihan ini dibuat sebagai implementasi wirausaha yang diajarkan kepada mahasiswa.

2.2. Membangun PNJ dibidang Hardware
Membangun PNJ dibidang hardware adalah membangun PNJ dibidang perangkat keras antara lain meliputi:
a. Peningkatan sumber daya manusia (SDM)
Membangun SDM berarti melakukan peningkatan kualitas dan keprofesionalan dari seluruh staf staf pengajar (dosen), staf administrasi, peningkatan standar calon mahasiswa yang di terima di PNJ serta peningkatan nilai Indek Prestasi Komulatif (IPK) mahasiswa.
Dibuatkan program-program pelatihan bagi SDM PNJ agar memiliki kualitas global yaitu ada tiga karakter CCC:
• Competence (kompetensi) adalah memiliki kualitas dengan standar kualitas yang unggul (excellence).
• Concept (konsep) merujuk pada kemampuan untuk memproduksi inovasi secara berkesinambungan dan mentransfernya kepada setiap produk yang dihasilkannya.
• Connections (koneksi) bukanlah dalam arti kemampuan ber-KKN, melainkan membentuk kemampuan di dalam membuat jaringan-jaringan kerja secara profesional .
Kalau mau meningkatkan kualitas sumber daya manusia, salah satu upaya yang paling logis adalah kompetisi. Kompetisi harus diciptakan secara transparan dan profesional agar terpacu untuk meningkatkan kualitas.
PNJ disamping melakukan pengembangan IPTEKS, menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas tentu menjadi salah satu misi. Untuk menghasilkan SDM yang berkualitas, PNJ hendaknya melakukan berbagai strategi pengembangan SDM yang dimilikinya. PNJ perlu menyadari bahwa pada era perubahan ini tentu dibutuhkan strategi pengembangan SDM yang berbeda. Konsep pengembangan SDM untuk menghadapi perubahan dan tantangan adalah menggarap setiap unit Teamwork untuk menuju ke satu titik : mewujudkan visi dan selalu mengemban misi PNJ. Oleh karena itu yang perlu dilakukan PNJ dalam hal ini antara lain:
• Secara terus menerus menyiapkan SDM melalui proses belajar.
• Meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris sebagai modal memasuki pasar internasional sebagai salah satu krtiteria SDM yang dibutuhkan pada masa perubahan ini.
• Mampu menyiapkan SDM yang dapat bekerja dari tempat manapun dengan memanfaakan Information Technology (IT)
• Mampu menyiapkan SDM yang mengerti dan membaurkan batas-batas antar disiplin ilmu walaupun tetap dituntut kemampuan spesialis yang dalam.
• Mampu menyiapkan SDM yang dapat bekerja dalam team dan mampu mencari serta mengelola informasi.
• Mampu menyiapkan SDM yang dapat mengadaptasikan kemampuannya dengan lingkungan yang ada dan lebih memperhatikan faktor risiko.
Selanjutnya perkembangan pemanfaatan Information System (IS) dan IT perlu ditingkatkan bagi seluruh SDM PNJ, sekarang bukan hanya otomasisasi informasi yang diperlukan namun bagaimana PNJ meningkatkan daya saingnya melalui penerapan strategic information system.
Selain dari itu apabila melihat fenomena “Global Paradox” mengungkapkan, persaingan akan dimenangkan oleh orang atau kelompok dengan semangat enterpreneur yang jeli dan lincah menangkap peluang akibat perubahan pada era globalisasi. Kelincahan membutuhkan kreativitas, dan kreativitas membutuhkan kebebasan psikologis.
PNJ sebaiknya mulai membangun “budaya korporasi” (corporate culture) yang sehat sehingga Teamwork yang terbentuk antara unit kerja akan dapat menghasilkan kinerja yang optimal dan professional.
Di dalam mengelola PNJ sebaiknya harus segera menjalankan prinsip jaminan mutu ISO 2000-9001 yang digabung pola pengelolaan berprinsip bisnis. Adapun yang dimaksud dengan prinsup usaha (bisnis) adalah kepercayaan, dan kepercayaan ditumbuhkan lewat budaya, bukan peraturan. Dengan SDM yang berkualitas seperti inilah maka dimungkinkan PNJ dapat menjadi “Entrepreneur Polytechnic”. Keuntungan dan manfaat yang didapat sangat besar apabila SDM di PNJ dapat mewujudkan Entrepreneur Polytechnic anatara lain:
• SDM menjadi lebih berkualitas dan unggul karena dapat berkerja dengan prinsip jaminan mutu ISO 2000-9001.
• Program-program PNJ menjadi program unggulan yang diminati oleh masyarakat.
• Fasilitas dan sarana di PNJ tetap terjaga dan selalu menggunakan teknologi terkini.
• Jaringan kerja akan menjadi lebih luas.
Oleh karena itu kejumawaan (arogansi) dan kepercayaan diri yang berlebihan pada setiap SDM bisa mengakibatkannya PNJ tergelincir dalam langkah.
b. Membangun Fasilitas Pendidikan
Sudah menjadi alasan klasik bagi setiap lembaga pendidikan atau perguruaan tinggi seperti PNJ apabila kurang dapat berkembang karena fasilitas pendidikan yang dimiliki tidak sesuai dengan kemajuan teknologi industri saat ini. Namun demikian sebaiknya alasan semacam ini tidak menjadi kendala untuk mengembangkan PNJ, karena masih ada cara-cara lain untuk membangun PNJ sehingga tidak tertinggal dengan teknologi di Industri.
Fasilitas pendidikan di PNJ sekarang ini didominasi dengan peralatan teknologi masa tahun 1980-an sehingga saat ini sudah berusia di atas 25 tahun. Apabila dibandingkan dengan fasilitas politeknik yang baru berdiri tentunya PNJ akan kalah, hal inilah yang menjadi kekhawatiran apakah alumni PNJ dapat bersaing dengan alumni dari politeknik yang baru.
Berbicara masalah fasilitas pendidikan umumnya dikaitkan dengan keterbatasan dana yang ada di lembaga, demikian pula dengan PNJ. Karena dana sangat terbatas di PNJ maka kurang sekali dimasing-masing jurusan mendapat penambahan peralatan atau fasilitas yang berteknologi masa kini untuk setiap program studi. Sebagai contoh pada Jurusan di PNJ banyak mahasiswa melakukan praktek di bengkel menggunakan alat yang sudah tidak relevan lagi demikian pula dengan peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) banyak yang tidak memadai, padahal K3 sangat mutlak dilakukan di industri.
Untuk mengatasi kendala fasilitas pendidikan yang berteknologi terkini sebaiknya PNJ meningkatkan kerja sama dengan berbagi industri. Kerja sama yang dilakukan tersebut dalam:
• Bentuk peningkatan SDM seperti: pelatihan, magang atau prkatek kerja bagi dosen dan mahasiswa.
• Bantuan peralatan dapat berbentuk hibah.
• Penggunaan peralatan laboraturium di industri atau peralatan yang ada di lapangan bagi dosen dan mahasiswa. Untuk pengujian atau pendukung proses belajar mengajar.
Sudah ada kerja sama seperti di atas yang dilakukan PNJ dengan pihak industri, sebagai contoh kerja sama dengan PT. Trakindo Utama, PUSGRAFIN, PT. Jasa Marga dan lainnya namun masih kurang optimal dan hal seperti ini belum di lakukan pada program studi lain maupun jurusan lain.
Dengan melakukan kerja sama seperti di atas dan dilaksanakan dengan sepenuh hati serta komitmen tinggi diantara kedua belah pihak tentunya kendala fasilitas pendidikan dan sarana di PNJ dapat teratasi.
PNJ seharusnya dapat memanfaatkan potensi daerah di dalam mencari mitra kerja sama dan hal ini tidak menjadi sulit karena PNJ terletak di Depok yang relatif dekat dengan industri-industri di Jakarta dan sekitarnya.

III. Penutup
Dari permasalahan dan pembahasan tersebut diatas dapat disimpulkan dan diberikan beberapa rekomendasi yang dapat diimplementasikan apabila diinginkan agar PNJ menjadi berkualitas dan dapat sebagai tumpuan industri nasional sebagai berikut.
Membangun PNJ dengan berbagia permasalahan. baik yang diakibatkan faktor internal maupun faktor eksternal harus dilakukan dengan cara mengoptimalkan seluruh potensi yang dimilikinya. Mengoptimalkan program-program kerja sama dengan industri, asosiasi profesi, instansi pemerintah yang terkait serta peran masyarakat di dalam mencari sumber-sumber keilmuan sebagai peningkatan SDM, sumber-sumber bantuan peralatan/ fasilitas pendidikan sebagai sarana pembelajaran dan sumber-sumber pendanaan sebagai peningkatan program/ kesejahteraan dengan konsep we go as we growth.
Untuk itu, PNJ memerlukan paradigma baru dan berani mereformasi pendidikan dalam mengelola pendidikannya agar berhasil guna dan berdaya guna untuk menjadi ” Politeknik Plus” dan “Entrepreneur Polytechnic”. Dalam paradigma baru ini, tentunya faktor SDM yang paling penting untuk segera dilakukan peningkatan oleh PNJ, melalui jaminan mutu seperti ISO 2000-9001 dan faktor peningkatan fasilitas/ sarana pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dunia industri.
Dengan berani melakukan reformasi dan terobosan program-program baru inilah diharapkan PNJ dapat menjadi Politeknik Negri Jakarta yang berkualitas dan menjadi tumpuan industri nasional, semoga!
Adapun yang dapat direkomendasikan untuk PNJ dari paparan ini adalah antara lain:
a. Melakukan Evaluasi diri secara menyeluruh pada setiap unit, jurusan serta program studi secepatnya, pekerjaan ini tentunya tidak menggunakan pendanaan yang besar.
b. Melakukan pemetaan sumber-sumber potensi internal dan eksternal secara komprenhensif.
c. Mempersiapkan diri dan mensosialisasikan program-program jaminan mutu seperti ISO 2000-9001 pada setiap komponen yang ada di PNJ
d. Meningkatkan kerja sama dengan industri, asosiasi, instansi pemerintah yang terkait dan masyarakat dalam penyususnan kurikulum kompetensi serta peningkatan sarana dan prasarana pembelajaran.
e. Merancang program-program unggulan sehingga terwujud ” Politeknik Plus” dan “Entrepreneur Polytechnic”
f. Melaksanakan program-program yang telah dirancang dengan konsekwen dan penuh tanggung jawab. Hal ini dapat dilakukan apabila dapat menempatkan SDM yang tepat pada posisinya.
Sebagai harapan dan impian semoga PNJ menjadi Politeknik Unggulan di bumi pertiwi Idonesia dalam waktu yang tidak terlalu lama dan sepanjang masa, amin.

IV. Daftara Pustaka
• Arismunandar, Wiranto. 1996. Manusia, Teknologi, dan Lingkungan: Kemampuan dan Pengembangannya. Bana G Kartasasmita (editor), Bandung: ITB.
• Dewey, John. 1958. Philosophy of Education. USA: Littlefield, Adams & Co.
• Drucker, Peter F. 1997. Manajemen di Tengah Perubahan Besar. Jakarta: PT Elex
• Duderstadt, James J. Knoll, Glenn F. Springer, George S. 1982. Principles of Engineering, John Wiley & Sons. Inc.
• Gaspersz, Vincent , Penerapan Total Quality Management in Education (TQME) pada Perguruan Tinggi di Indonesia:Suatu Upaya untuk Memenuhi Kebutuhan Sistem Industri Modern, internet
• Media Komputindo
• Nandika Dodi, ”Kebijakan dan Program DP3M-Ditjen Pendidikan Tinggi”, makalah, 2003
• PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
• Ppno.23 Tahun 2004 tentang penyelenggaran sertifikasi nasional
• Sudiyono, 2004, Manajemen Pendidikan Tinggi, Rineka Cipta, Jakarta
• Umaedi, 1999, Manajemen Mutu Berbasis Sekolah, internet
• Undang-undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan di Indonesia

Beri tanggapan

Your response: