Oleh: beamnews | Oktober 3, 2013

FORMULIR SEMINAR SMK3 KONSTRUKSI

Berikut ini adalah formulir seminar SMK3 Konstruksi-APOSHO 2013
bagi yg berminat, silahkan mengisi formulir ini. terimakasih.

link formulir

https://docs.google.com/forms/d/12W1Ittw5PULo5VzUCqsUU-w8-PsaphD1207Sn66FIoM/viewform

Iklan

Materi Seminar Bangkit Industri Baja Indonesi

5 Agustus 2009

Peranan Perguruan Tinggi dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia yang handal di bidang Industri dan Konstruksi Baja Indonesia

 

Ir. Kusumo Dradjad S, MSi

Dosen Politeknik Negeri Jakarta

 

 

Ngelmu Tanpa laku Kothong, Laku Tanpa Ngelmu Cupet – (Ki Hajar Dewantara-KHD)

Menuntut ilmu tanpa mempraktekannya, menjadikan ilmu orang tersebut tidak berisi demikian pula  bekerja tanpa dilandasi ilmu akan menghasilkan  pekerjaan  tidak baik.

Filsafat dari KHD ini menjadikan kita sadar bahwa belajar di perguruan tinggi tidak hanya belajar keilmuanya saja saat di dalam kampus, namun harus disertai belajar praktek dan aplikasinya diluar kampus, tentu saja  harus melibatkan pihak industri, asosiasi, dan stake holder lainnya agar ilmu yang dituntut menjadi lebih sempurna dan berdaya guna bagi kehidupan manusia.

 Berbicara mengenai perguruan tinggi berarti membicarakan tentang pendidikan, seberapa penting pendidikan itu di mata bangsa dan Negara. Pendidikan itu adalah paspor untuk memasuki masa depan. Suatu bangsa dan negara yang tidak peduli dengan pendidikan, maka dimasa datang bangsa tersebut akan tergilas dan tertindas oleh bangsa dan negara lain yang telah maju.

 Negara super power banyak memiliki perguruan tinggi kelas dunia dengan berbagai program studi yang dimiliki seperti Amerika, Inggris, Jepang  dan lainnya.  Mereka menjadi besar, kuat  dan maju karena di negaranya banyak orang pintar. Bisnis baru dan perusahaan baru setiap hari banyak bermunculan di negara maju, mereka tentunya akan memanfaatkan peluang aturan yang dibuat dalam golbalisasi saat ini. Sehingga sangat dimungkinkan  mereka berbisnis dengan mengusung SDM dan teknologinya di  Indonesia,  sementara kita sebagai tuan rumah hanya sebagai penonton. Hal seperti ini akan dapat terjadi dimasa kini apabila pendidikan di Indonesia terabaikan.

Masa globalisasi telah bergulir dan teknologi telah semakin canggih, saat ini sudah tidak lagi ada hambatan tentang jarak dan waktu. Belajar sekarang ini tidak harus didalam kampus dan perpustakaan, namun orang saat ini dapat melakukan pengembangan diri cukup dalam suatu ruangan yang dilengkapi dengan seperangkat komputer yang terkoneksi dengan internet. Bahkan tidak sekedar mengembangkan diri saja namun orang dapat mempunyai usaha, berbisnis apa saja melalui ruangan tersebut. Teknologi Informasi (TI) sedemikian cepat perkembangannya sehingga turut serta dalam merevolusi sistem pendidikan, yang menjadi pertanyaan, siapkah masyarakat kita “Masayarakat Baja Indonesia”  menghadapi keadaan seperti ini?

Namun demikian tidak usah berkecil hati, masyarakat kita telah ada usaha-usaha mengatasi hal tersebut seperti yang dilakukan oleh beberapa perusahaan, industri, asosiasi dan instansi pemerintah di dalam memanfaatkan TI, meskipun sifatnya masih untuk kebutuhan/ kepentingan masing-masing. Apabila diantara mereka dapat dipadukan tentunya akan menjadi suatu kekuatan yang sangat besar. Sebagai contoh kerja sama yang dilakukan sebuah perusahaan dibidang teknologi informasi baja di Indonesia,  sebut saja  SteelIndonesia.com  dengan IISA, dan  Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI) serta Perguruan Tinggi, disana orang mendapatkan informasi baja, belajar baja, mengembangkan baja,  bahkan sampai berbisnis baja  cukup didepan komputer.  Hal ini sebagai perwujudan link and match  untuk menciptakan suatu kekuatan yang besar di Indonesia sehingga “Bangkit Baja Indonesia“ dapat terwujud dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat di bumi pertiwi ini.

I. Kaitannya Peranan Perguruan Tinggi dengan Industri Baja

Kaitannya peranan perguruan tinggi di dalam meningkatkan sumber daya manusia  (SDM) terhadap kebutuhan industri telah tertuang di  program  rencana strategis (Renstra)  Departemen Pendidikan Nasional. Pada  Renstra dijelaskan bahwa Dalam rencana pembangunan jangka panjang Departemen Pendidikan Nasional 2005-2025, ada  empat tema strategis pembangunan pendidikan, yaitu:

  1. Peningkatan kapasitas dan modernisasi,
  2. Penguatan pelayanan,
  3. Daya saing regional,
  4. Daya saing internasional.

Setiap tema strategis pembangunan pendidikan jangka panjang di atas, akan diturunkan dalam program kerja departemen sesuai kebijakan pembangunan jangka menengah yang menekankan pada 3 tantangan utama, yaitu:

  1. Pemerataan dan perluasan akses
  2. Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing;
  3. Peningkatan tata kelola, akuntabilitas dan citra publik.

Memperhatikan Renstra yang dibuat oleh oleh Departemen Pendidikan Nasional  tentang daya saing regional dan internasional, sangat sedikit Perguruan Tinggi  memiliki program studi di bidang baja umumnya dikenal dengan jurusan metalurgi dan jurusan mesin dan perguruan tinggi lainnya hanya diberikan berupa mata kuliah, hal ini tetunya sangat memprihatinkan sekali. Bagaimana daya saing baja Indonesia dapat berbicara di tingkat regional dan nasional apabila SDM nya tidak menguasai bidang baja. Berbicara tentang pendidikan baja sangat luas sekali.

Semestinya Universitas, Institut, politeknik dan perguruan tinggi lainnya sudah saatnya untuk membuka Program Studi Baja. Mengapa demikian? Karena baja merupakan industri strategis yang dimiliki oleh bangsa dan negara di dunia.  Indonesia memiliki tambang biji besi, mangaan dan sebagainya yang sangat besar dapat diolah menjadi baja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan kepentingan negara serta bangsa seperti:

  1. Perkakas rumah
  2. Peralatan tangan
  3. Mesin Produksi/ Industri
  4. Pendidikan
  5. Peralatan laboraturium
  6. Konstruksi bangunan
  7. Alat Transportasi
  8. Peralatan perang
  9. Peralatan Kesehatan/ Rumah Sakit

10.  dll

melihat itu tentunya sangat banyak SDM profesional bidang baja yang dibutuhkan di Negara Indonesia ini. Mengapa demikian, karena baja merupakan matrial olahan dari hulu sampai hilir yaitu mulai pekerjaan pengolahan biji besi sampai terbentuk barang jadi yang dibutuhkan, semuanya itu dapat dibuat di negara kita ini. Apabila melihat contoh di atas, dapat diketahui betapa pentingnya peranan perguruan tinggi di dalam mencetak manusia yang menguasai dan ahli di berbagai bidang ilmu dan keahlian tentang baja. Untuk diketahui bahwa negara-negara maju memiliki parameter-parameter antara lain:

  • Banyaknya jumlah hak paten yang dimiliki
  • Banyaknya Jumlah perguruan tinggi kelas dunia
  • Besarnya Anggaran pendidikan dan penelitian setiap tahunnya
  • Besarnya komsumsi baja per kapita di negara tersebut.

Tabel Produksi dan Konsumsi Baja ASEAN 1998-2006
 
 Sumber: PT Krakatau Steel

Dengan mengetahui parameter tsb di atas peranan Perguruan Tinggi bersama –sama Departemen Perindustrian serta stake holder terkait lainnya dapat membuat program-program yang bersinergi, untuk berkarya nyata bagi bangsa dan negara dalam memajukan bangsa Indonesia sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat dan dapat sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya di dunia ini.

II. Jalur dan Jenjang pendidikan yang terkait dengan bidang baja.

Pelaksanaan pendidikan nasional berlandaskan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

a. Jalur Pendidikan
Bidang ketrampilan dan keahlian baja semestinya dapat ditempuh melalui jalur pendidikan: 

  1. pendidikan formal,
  2. nonformal, dan
  3. informal.

Penjelasan dari masing-masing bidang seperti diuraikan di bawah ini.

1. Jalur Pendidikan Formal

Untuk pendidikan formal bidang baja tentunya dapat dimulai dari jenjang:

1)   Pendidikan menengah yaitu Sekolah Menengah Kejuruan:

  1. SMK Jurusan Mesin,
  2. SMK Perkapalan,
  3. SMK Otomotif
  4. SMK Bangunan
  5. Dan SMK lainnya yang berkosentrasi pada bidang baja

2)   Pendidikan tinggi.

  1. Politeknik dan Diploma: D1, D2, D3 dan D4 dengan jurusan yang terkait dengan pekerjaan baja. Seperti: Jurusan Teknik Sipil, Jurusan Mesin, Jurusan Perkapalan dsb.
  2. Politeknik dan Diploma khusus bidang studi industri baja (berupa usulan) misalnya: Jurusan Pengolahan Biji Besi, Jurusan Konstruksi Baja, Jurusan Bisnis Baja dsb.
  3. Pendidikan program vokasional jalur kedinasan  bidang baja
  4. Universitas, institut dan Sekolah Tinggi: S1, S2 dan S3 dengan jurusan:
  • Fakultas Teknik: Jurusan Metalurgi, Jurusan Mesin Industri, Jurusan Teknik Sipil
  • Fakultas MIPA: Jurusan Matrial, dsb

Pada Jalur Perguruan tinggi dikewajibkan menyelenggarakan Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

 Di dalam penyelenggaraan pendidikan jalur formal, Pakar Pendidikan Politeknik (Ir.Hadiwaratama, MSc.E) di Indonesia , telah membuat konsep konsentrasi untuk setiap jenis jalur pendidikan. Dari konsep tersebut sangat cocok apabila pengembangan pendidikan  bidang baja dikembangkan di Indonesia.

Jalur akademik  mulai dari Strata ! sampai Strata III berkosentrasi melakukan resarch dan pengembangan bidang baja dari hulu sampai hilir, sedangkan politeknik beserta Diploma lainnya melakukan rekayasa engeneering & Development serta mengembangkan desain. Selain hal tersebut politeknik dapat mengerjakan manufacturing production & process .

Dengan melakukan kosentrasi pendidikan bidang baja di perguruan tinggi seperti di atas, peranan perguruan tinggi akan sangat terlihat di dalam penyediaan  SDM bidang baja yang ahli dan profesional.

Melaksanakan pendidikan bidang baja diperlukan comitment dari semua pihak dan unsur, konsep sekolah baja apabila ingin dikembangkan di Indonesia tentunya diperlukan benchmarking pada negara industri baja yang telah maju dan diperbanyak atau di buka jalur pendidikan politeknik, diploma maupun sekolah kejuruan.

Perbedaan utama antara pendidikan akademik dengan politeknik, diploma dan vokasional terletak dalam keahlian yang dicapai lulusannya. Lulusan pendidikan akademik lebih berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan secara teori, sedangkan lulusan pendidikan politeknik, diploma dan vokasional lebih pada penguasaan praktek dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan.

2. Pendidikan Nonformal

Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan bidang baja dari hulu sampai hilir yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional dibidang baja.
Pendidikan nonformal meliputi: 

  1. lembaga kursus,
  2. lembaga pelatihan,
  3. kelompok belajar,
  4. pusat kegiatan belajar masyarakat

Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan, julur pendidikan ini dapat digunakan untuk mendapatkan sertifikasi profesi ketrampilan dan keahlian bidang baja.

3. Pendidikan Informal

Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Inti dari peranan perguruan tinggi dalam meningkatkan SDM dibidang industri baja dan konstruksi baja adalah bagaimana mempersiapkan SDM yang memiliki kecakapan hidup, dapat mengolah sumber alam dibidang baja dari hulu sampai hilir disertai kemampuan wirausaha.

Konsepnya  Brolin (1989) dalam mengartikan kecakapan hidup yaitu bahwa kecakapan hidup merupakan interaksi dari berbagai pengetahuan dan kecakapan sehingga seseorang mampu hidup mandiri. Pengertian kecakapan hidup tidak semata-mata memiliki kemampuan tertentu (vokational job), namun juga memiliki kemampuan dasar pendukung secara fungsional seperti: membaca, menulis dan berhitung, merumuskan dan memecahkan masalah, mengelola sumber daya ,bekerja dalam kelompok, dan menggunakan teknologi. Sedangkan Barrie Hopson dan Scally (1981) mengemukakan bahwa kecakapan hidup merupakan pengembangan diri untuk bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang, memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan berhubungan baik secara individu, kelompok maupun melalui sistem dalam menghadapi situasi tertentu.

Dari pengertian di atas, dapat di artikan bahwa pendidikan kecakapan hidup di bidang baja merupakan kecakapan yang didasari dengan matrial baja yang dilakukan secara praktis dapat membekali peserta didik dalam mengatasi berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan. Kecakapan itu menyangkut aspek pengetahuan teknologi baja, sikap yang didalamnya termasuk fisik dan mental, serta kecakapan kejuruan, kecakapan berwirausaha yang berkaitan dengan pengembangan akhlak peserta didik sehingga mampu menghadapi tuntutan dan tantangan hidup dalam kehidupan.

Di sejumlah negara maju, meyakini bahwa program jalur pendidikan seperti politeknik, diploma dan vokasi merupakan andalan. Artinya, menjadi tumpuan bagi negara tersebut itu dalam membangun sistem kerja yang dapat sukses memasuki persaingan global. Dengan program berbasis ketrampilan kerja dan vokasi, banyak negara berhasil membangun ekonomi mereka dan lapangan kerja banyak diisi tenaga-tenaga vokasi berilmu pengetahuan.

III. Sertifikasi dan Asosiasi Profesi .

Peningkatan SDM di Indonesia tidak hanya tanggung jawab Departemen Pendidikan saja namun menjadi tanggung jawab dunia industri dan asosiasi profesi. Masa kini orang bekerja tidak cukup dengan pengakuan lulus perguruan tinggi berupa ijasah, namun lulusan perguruan tinggi masih harus diukur tingkat kopetensinya, dinyatakan dengan sertifikat keahlian/ ketrampilan yang dikelurakan oleh badan yang ditunjuk oleh pemerintah dan asosiasi profesi sebagai pihak penyelenggara.

Di dalam penyediaan SDM yang berkualitas dan efisien pada masa globalisasi ini menjadi  sangat penting bagi negara Indonesia, mengapa demikian, karena adanya kesepakatan antara negara-negara dalam kerangka General Agreement on Trade in Services (GATS). Dengan GATS negara-negara dapat melakukan negosiasi-negoisiasi dalam membuka pasar termasuk hal ini adalah bidang jasa, oleh karena itu apabila Sumber Daya Manusia (SDM) bidang jasa di Indonesia tidak meningkatkan kualitasnya akan kalah bersaing dengan SDM dari negara lain yang telah memiliki kompetensi standar (bersertifikat keahlian/ ketrampilan)

Seperti bidang jasa konstruksi merupakan lingkup pekerjaan yang mempunyai karakteristik tersendiri, bidang ini menuntut SDM yang memiliki inovasi tinggi, penggunaan teknologi canggih yang terus berkembang, penggunaan sistem pengelolaan manajemen yang baik dan dapat mengendalikan resiko bahaya dan kecelakaan. Untuk mendapatkan hasil kerja yang bermutu, efisien tanpa ada kecelakaan  tentunya dibutuhkan SDM yang memiliki kompetensi dan integritas tinggi.

Cara di dalam mendapatkan SDM yang berkualitas dan standar menurut kompetensi profesi dalam sektor jasa konstruksi maka dibutuhkan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong stakeholder, perguruan tinggi,  asosiasi profesi, LPJK, BNSP serta pemegang sertifikat keahlian (SKA) dan sertifikat ketrampilan (SKT) selalu mengembangkan diri mengikuti Mutual Recognation Agreements (MRA) yang diwujudkan dalam bentuk ASEAN Chater Profesional Engineers (ACPE) ataupun badan internasional yang lain.

Pada Januari 2010 ASEAN tahun depan ini, termasuk Indonesia, telah sepakat memberlakukan Liberalisasi ASEAN bidang Jasa, termasuk bidang Jasa konstruksi dan Penerbangan. Di bidang jasa konstruksi ini berarti bahwa perusahaan ASEAN maupun tenaga kerja ASEAN diperbolehkan bekerja dimana saja di ASEAN asal mempunyai sertifikat keahlian/ ketrampil.

Indonesia mengharapkan bahwa dengan diberlakukannya MRA di ASEAN ini,  maka tenaga kerja jasa konstruksi Indonesia yang trampil bisa mendapat pekerjaan di negara ASEAN lainnya.  Akan tetapi sebaliknya juga berlaku, yaitu bahwa pekerja jasa konstruksi ASEAN lainnya juga dibolehkan bekerja di Indonesia asal mempunyai sertifikat keahlian dan ketrampilan yang standar.

Pekerja jasa konstruksi tingkat pekerjaan dari level bawah sampai level manager berbagai bidang produksi, pemasaran dan penjualan, merupakan kancah di mana pekerja Indonesia akan harus bersaing di Indonesia sendiri,  dengan kemungkinan arus kedatangan pesaing dari warga dari negera ASEAN. Selain itu, isyu mengenai gaji tentu akan menjadi hal yang menarik perhatian.

Bagaimanapun, solusi permasalahan di atas  perlu dipersiapkan mulai dari sekarang termasuk dilakukan kajian-kajian dan sinergi antara Asosiasi Profesi dan Perguruan Tinggi dalam Peningkatan Mutu SDM di Bidang Jasa Konstruksi.

Berkaitan dengan “Bangkit Baja Indonesia” dalam rangka peningkatan SDM dan sosialisasi informasi teknologi bidang baja Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI) yang didukung SteelIndonesia.com akan melakukan road show ke 100 perguruan tinggi di Indonesia dimulai pada bulan Oktober pada tahun 2009, dengan harapan bahwa mahasiswa dan dosen akan lebih dekat dengan baja dan akan memperbesar komunitas baja di Indonesia. Hal ini sebagai bentuk perwujudan nyata links and match antara asosisasi dan perguruan tinggi.

SKA dan SKT  dapat ditempuh di asosiasi profesi, namun demikian diperbolehkan perguruan tinggi menyelenggarakan sertifikasi SKA dan SKT sepanjang aturannya terpenuhi. Perguruan Tinggi yang akan menyelenggarakan sertifikasi tentunya harus membentuk Badan Sertifikasi Keahlian (BSA) atau Badan Sertifikasi Ketrampilan (BSK). Perguruan Tinggi yang telah mempunyai BSK antara lain Politeknik Negeri Jakarta dan politeknik negeri lainnya.

Oleh karena itu  dalam menyikapi keadaan seperti di atas diperlukan kepedulian semua pihak termasuk kebijakan pemerintah untuk mendorong sinergi antara asosiasi profesi dan perguruan tinggi. Pada umumnya asosiasi profesi adalah organisasi yang pengurus dan anggotanya telah bekerja di bidangnya,  dan mereka telah banyak memiliki berbagai pengalaman kerja dalam menghadapi persoalan serta kasus yang terjadi di lapangan.

Potensi dasar yang telah dimiliki oleh asosiasi profesi, industri, instansi pemerintah dan perguruan tinggi menjadi modal untuk mendorong “Bangkit Baja Indonesia”. Dengan komitmen semua pihak terhadap perkembangan industri baja semoga bangsa dan negara Indonesia dapat lebih maju dan dapat mensejahterakan masyarakat pada umumnya serta dapat berdiri sejajar dengan negara dikawasan regional dan internasional.

Ditulis, di Depok, 3 Agustus 2009

Kusumo DS.

                                                                                 

Sejak krisis ekonomi di akhir tahun 1990-an yang memberi tekanan berat dan berkepanjangan kepada industri metal coating di Indonesia, recovery pasar metal coating tidak terjadi dalam satu-dua tahun. Industri ini mengalami kesulitan likuiditas serius. Sebagian terpaksa berhenti beroperasi, setidaknya untuk sementara. Beberapa perusahaan melakukan merger/akuisisi dalam rangka efisiensi. Langkah lainnya, mencoba meningkatkan penetrasi ke pasar ekspor, terutama  oleh produsen-produsen yang tergolong besar.  

Mulai bergairahnya kembali sektor konstruksi dan property serta industri manufactur yang memakai coating steel sheet untuk casing/body seperti otomotif dan lemari pendingin belakangan ini, maka pada tahun 2004 produksi GI sheet sudah mencapai 460.500 ton. Berarti sudah menyamai kondisi pra krisis. Bahkan tahun 2005 produksinya  telah melampaui tahun 1997, yaitu  sekitar 522 ribu ton.  Hingga 2007 sejalan dengan membaiknya daya beli masyarakat, produksi GI sheet nasional sudah mencapai 585.000 ton. Produk-produk berbahan coated steel sheet juga semakin variatif (inovatif), seperti genteng baja (rooftile steel), cenderung semakin digemari karena  ringan tapi kuat, dengan banyak warna pilihan.

Hanya saja di tengah perkembangan yang positif itu, pasar metal coating sheet domestic  dibayangi oleh maraknya kembali produk-produk non standar berkualitas rendah yang harganya miring, termasuk eks impor. Padahal tingkat persaingan sudah sangat ketat. Harga baja dunia mengalami fluktuasi yang sangat tajam dalam dua tahun terakhir.  Faktor-faktor  eksternal ini mengganjal industri metal coating sheet mengoptimalkan kapasitas, kecuali untuk zinc-alum coating (ZiAl) yang sudah berada pada  level full capacity.  

Sementara itu pada 28 Februari 2008 lalu, pemerintah telah menetapkan sanksi Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap impor HRC dari lima negara pemasok utama, China, Taiwan, Thailand, Rusia dan India, maka kelangsungan industri CRC, baja lapis seng (BjLS) atau GI-sheet, baja lapis timah hingga industri baja hilir di dalam negeri menjadi terancam.  PT Essar Indonesia misalnya, produsen CRC dan GI-sheet itu mengaku selama ini mendapat kesulitan memperoleh bahan baku di dalam negeri, akibat tersendatnya pasokan HRC dari PT KS. Sebab sebagian besar bahan baku industri CRC-nya masih harus dipasok dari perusahaan induknya di India, atau dari negara importir HRC China maupun Taiwan.

Kondisi ini akan semakin berat mengingat pemerintah pada akhir Maret 2008 lalu, menetapkan tidak memperpanjang lagi SK Peraturan Menteri Keuangan No. 85/PMK.011/2007 yang menghapus bea masuk HRC ketebalan di bawah 2 mm hingga 0% selama enam bulan sejak 7 Agustus 2007, atau  masa berlakunya telah berakhir sejak Februari 2008 lalu. Dengan begitu, kini bahan baku tersebut harus diimpor dengan bea masuknya HRC yang umumnya sebesar 5%.

Selain GI sheet, dan coated steel sheet, juga dibahas dalam laporan ini kinerja industri tin plate.  Tin plate adalah bahan baku kemasan, terutama untuk industri makanan, seperti makanan dalam kaleng (canned food), juga industri cat, minyak goreng, dan industri baterai. Tin plate di Indonesia hanya diproduksi oleh satu-satunya produsen PT Latinusa.

 

(Sumber : PT. MEDIA DATA RISET)

Oleh: beamnews | Juni 25, 2009

JEMBATAN SURAMADU

JEMBATAN SURAMADU ADALAH JEMBATAN TERMEGAH DI INDONESIA

HARAPAN:

SEMOGA DAPAT MEMPERSATUKAN BANGSA INDONESIA

SEMOGA DAPAT MENSEJAHTERAKAN BANGSA INDONESIA

SEMOGA MENJADI KEBANGGAAN BANGSA INDONESI

 

APA YANG MESTINYA DIPERBUAT

MERAWAT DAN MENJAGA JEMBATAN SURAMADU

 

APA YANG TIDAK BOLEH DIPERBUAT PADA JEMBATAN SURAMADU

TIDAK BOLEH MENCORET-CORET JEMBATAN SURAMADU

TIDAK BOLEH MENGAMBIL ELEMEN-ELEMEN ATAU BAGIAN-BAGIAN JEMBATAN SURAMADU

TIDAK BOLEH MERUSAK JEMBATAN SURAMADU

TIDAK MEMBUANG SAMPAH DAN MEMBUAT KOTOR DIJEMBATAN SURAMADU

JEMBATAN SURAMADU 2009

Foto jembatan Suramadu bentang tengah

KABEL JEMBATAN SURAMADU

KABEL JEMBATAN SURAMADU

 JEMBATAN SURAMADU – TERPANJANG DI ASIA TENGGARA, SATU LAGI KARYA KONSTRUKSI BANGSA INDONESIA JEMBATAN SURAMADU , TERPANJANG DI ASIA TENGGARA, TAHAN GEMPA, KUAT UNTUK 100 TAHUN, DAN KARYA KONSTRUKSI BANGSA INDONESIA.

Berdiri Jembatan Suramadu merupakan tonggak sejarah baru dalam pembangunan konstruksi prasarana perhubungan di Indonesia. Jembatan antar pulau sepanjang 5.438 meter yang akan diresmikan Rabu (10/6) besok itu bukan hanya yang terpanjang di Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara. Sebagai jembatan yang menghubungankan dua pulau, sesungguhnya Suramadu (Surabaya-Madura) merupakan yang kedua setelah rangkaian jembatan Berelang (Batam Rempang Galang) yang selesai dibangun tahun 1997. Enam jembatan dengan berbagai tipe yang menghubungkan tujuh pulau kecil di Propinsi Kepulauan Riau ini, merupakan landmark keberhasilan dan kemandirian anak bangsa dalam membangun jembatan antar pulau. Sebelum Suramadu dibangun, sempat timbul keragu-raguan, apakah mungkin membangun jemnabatan di daerah patahan dan gempa? Bagaimana dengan tiupan angin di laut Selat Madura yang terkenal kencang, apakah tidak akan mempengaruhi konstruksi jembatan? Penelitian pun akhirnya dilakukan secara mendalam selama taun 2003-2004. Penelitian yang lebih bersifat technical study dilakukan terhadap 12 item yang kebanyakan berupa para meter tanah. Dari Sisi seismic hazard analysis, misalnya, diperoleh kesimpulan, di sekitar lokasi jembatan tidak ditemukan suatu patahan aktif. Berdasarkan catalog gempa juga tifak ditemukan gempa dengan magnitude di atas 4 skala Richter sehingga kondisi di sekitar jembatan cukup stabil. Kajian mendalam juga dilakukan terhadap kontur dasar laut, arus air, serta pengaruh pasang terhadap jembatan. Ternyata semuanya sangat memungkinkan untuk dibangun jembatan yang menghubungkan dua pulau. Adapun untuk angin,berdasarkan kajian ternyata angin yang melintang kecepatannya sampai maksimal 65 kilo meter per jam. TAHAN GEMPA Jembatan Suramadu yang pemancangan tiang pertamanya dilakukan pada 20 Agustus 2003 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri saat ini bisa tahan terhadap guncangan genpa sampai 7 skala Richter. Jembatan ini pun dirancang dengan sistem antikorosi pada fondasi tiang baja. Karena menghubungkan dua pulau, teknologi pembangunan Jembatan Suramadu didesain agar memungkinkan kapal-kapal dapat melintas di bawah jembatan bentang tengah Suramadu disediakan ruang selebar 400 meter secara horizontal dengan tinggi sekitar 35 meter. “Jika kecepatan angin sudah mencapai sekitar 40 kilometer per jam, jembatan harus ditutup untuk sepeda motor” Djoko Kirmanto Untuk menciptakan ruang gerak yang lebih leluasa bagi kapal-kapal, di bagian bentang tengah Suramadu dibangun dua tower (pylon) setinggi masing-masing 140 meter dari atas air. Kedua tower ini ditopang sebanyak 144 buah kabel penopang (stayed cable) serta ditanam dengan fondasi sedalam 100 meter hingga 105 meter. “Total panjang tower sekitar 240 meter. Ini sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya,” kata Direktur Jendral Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum Hermanto Dardak. KUAT 100 TAHUN Secara keseluruhan, pembangunan Suramadu menghabiskan sekitar 650.000 ton beton dan lebih kurang 50.000 ton besi baja. Tak heran, dinas pekerjaan umum mengklaim Suramadu sebagai megaproyek yang menghabiskan dana total mencapai Rp. 4,5 triliun. Jembatan ini dirancang kuat bertahan hingga 100 tahun atau hampir menyamai standar Inggris yang mencapai 120 tahun. Karena berada di tengah lautan, Suramadu berpotensi terkendala faktor angin besar yang potensial terjadi di tengah lautan. Untuk memastikan keamanan kendaraan yang melintas di atas Suramadu, Departemen Pekerjaan Umum akan membangun pusat monitoirng kondisi cuaca, khususnya angin. ‘’Jika kecepatan angin sudah mencapai 11 meter per detik atau sekitar 40 kilometer per jam, jembatan harus ditutup untuk kendaraan roda dua demi keselamatan pengendara, ‘’ ujar Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto. Jika kecepatan angin bertambah hingga 18 meter per detik atau sekitar 65 kilometer per jam, ajlur untuk kendaraan roda empat akan ditutup. Langkah ini semata-mata untuk keselamatan dan kenyamanan pengerndara. Adapun konstruksi jembatan akan tetap aman karena jembatan Suramadu dirancang tetap kokoh meski ditempa angin berkecepatan lebih dari 200 kilo meter per jam. Bukan Cuma kuat dari terpaan angin, Jembatan Suramadu juga didesain mampu menopang kendaraan sesuai standar as atau axle di daratan. Dengan demikian, Suramadu diperkirakan mampu menahan beban dengan berat satu as kendaraan sekitar 10 ton. CUKUP LIMA MENIT Setelah diresmikan besok, diperkirakan Suramadu akan dilintasi 8.000 – 9.000 sepeda motor per hari serta sekitar 4.000 kendaraan roda empat per hari. Jumlah ini berdasarkan perhitungan sebelumnya, kendaraan yang melintasi Ujung – Kamal dengan menggunakan kapal feri sekitar 2,4 juta sepeda motor per tahun (62 persen) serta 1,5 juta kendaraan roda empat per tahun (38 persen). Selain bakal padat, jembatan ini pun pasti akan sangat membantu masyarakat karena waktu tempuh Surabaya-Madura bisa dipersingkat. Jika sebelumnya menggunakan feri dibutuhkan waktu sekitar 30 menit, sekarang dengan menggunakan Suramadu cukup ditempuh lima menit. SEMPAT TERSENDAT Pembangunandalam perjalanannya sempat menemui kendala dana. Terhambatnya pencairan dana menyebabkan pembangunan approach bridge atau jembatan pendekat sisi Surabaya sepanjang 672 meter tersendat September 2008. Pemerintah Provinsi Jawa Timur akhirnya menalangi dana pembangunan melalui bank Jatim sebesar rp. 50 miliar sebelum dana pinjaman dari Bank Exim of China sebesar Rp. 68,9 juta dollar AS cair. Studi pembangunan yang kurang sempurna menyebabkan perkiraan biaya pembangunan juga melesat , seperti tiang pancang jembatan yang awalnya hanya didesain setinggi 45 meter akhirnya bertambah menjadi sekitar 90 meter. Karena itu, dari estimasi awal nilai kontrak sebesar Rp 4,2 triliun, biaya pembangunan akhirnya membengkak hingga Rp 4,5 triliun. Pembiayaan pembanguna Suramadu 55 persen ditanggung pemerintah, sedangkan 45 persen sisanya pinjaman dari China. Dari total biaya pembangunan Suramadu sebesar rp 4,5 triliun, sekitar Rp 2,1 triliun di antaranya harus berutang kepada China. Mahalnya pemikiran dan biaya pembangunan Suramadu diharapkan mampu menumbuhkan geliat ekonomi Tanah Air, terutama Jawa Timur. (By : Yuni Ikawati – Kompas 9 juni 2009). ——————–

Membangun Sinergi antara Asosiasi Profesi dan Perguruan Tinggi dalam Peningkatan Mutu SDM di Bidang Jasa Konstruksi.

Oleh Ir. Kusumo Dradjad S, MSi

Di dalam penyediaan SDM jasa konstruksi yang berkualitas dan efisien pada masa globalisasi ini menjadi  sangat penting bagi negara Indonesia, mengapa demikian, karena adanya kesepakatan antara negara-negara dalam kerangka General Agreement on Trade in Services (GATS). Dengan GATS negara-negara dapat melakukan negosiasi-negoisiasi dalam membuka pasar termasuk hal ini adalah bidang jasa konstruksi, oleh karena itu apabila Sumber Daya Manusia (SDM) bidang konstruksi di Indonesia tidak meningkatkan kualitasnya akan kalah bersaing dengan SDM dari negara lain.

Bidang jasa konstruksi merupakan lingkup pekerjaan yang mempunyai karakteristik tersendiri, bidang ini menuntut SDM yang memiliki inovasi tinggi, penggunaan teknologi canggih yang terus berkembang, penggunaan sistem pengelolaan manajemen yang baik dan dapat mengendalikan resiko bahaya dan kecelakaan. Untuk mendapatkan hasil kerja yang bermutu, efisien tanpa ada kecelakaan  tentunya dibutuhkan SDM yang memiliki kompetensi dan integritas tinggi.

Cara di dalam mendapatkan SDM yang berkualitas dan standar menurut kompetensi profesi dalam sektor jasa konstruksi maka dibutuhkan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong stakeholder, perguruan tinggi,  asosiasi profesi, LPJK, BNSP serta pemegang sertifikat keahlian (SKA) selalu mengembangkan diri mengikuti Mutual Recognation Agreements (MRA) yang diwujudkan dalam bentuk ASEAN Chater Profesional Engineers (ACPE) ataupun badan internasional yang lain.

 

Konsekwensi dan ancaman MRA dan ACPE bagi Indonesia

 

Pada tgl. 1 Januari 2010 ASEAN tahun depan ini, termasuk Indonesia, telah sepakat memberlakukan Liberalisasi ASEAN bidang Jasa, termasuk bidang Jasa konstruksi dan Penerbangan. Di bidang jasa konstruksi ini berarti bahwa perusahaan ASEAN maupun tenaga kerja ASEAN diperbolehkan bekerja dimana saja di ASEAN asal mempunyai sertifikat.

Indonesia mengharapkan bahwa dengan diberlakukannya MRA di ASEAN ini,  maka tenaga kerja jasa konstruksi Indonesia yang trampil bisa mendapat pekerjaan di negara ASEAN lainnya.  Akan tetapi sebaliknya juga berlaku, yaitu bahwa pekerja jasa konstruksi ASEAN lainnya juga dibolehkan bekerja di Indonesia asal mempunyai sertifikat.

Memang pekerja lulusan perguruan tinggi bidang jasa konstruksi Indonesia banyak diminati baik di dalam negeri  maupun di luar negeri, akan tetapi mereka pada umumnya adalah pekerja pada level menengah ke bawah, dengan pendidikan paling tinggi sebagai supervisor.

Berbeda dengan, di Singapura dan Malaysia, pendidikan yang lebih diminati adalah justru pada tingkat manajemen. Jadi, dengan akan diberlakukannya MRA, Indonesia diperkirakan akan kebanjiran pekerja asing pada level manajemen ke atas, termasuk di bidang jasa konstruksi ini. Sedangkan pekerja Indonesia kebanyakan hanya mampu bekerja sampai pada level supervisor ke bawah.

Keadaan ini memungkinkan mereka yang lulus perguruan tinggi bidang konstruksi di Indonesia, akan bekerja di luar negeri dengan gaji lebih besar dari pada di Indonesia, sehingga pekerjaan konstruksi di Indonesia sendiri akan kekurangan pekerja yang terlatih  karena banyak sudah lari ke luar negeri. Maka jasa konstruksi Indonesia akan didominasi pihak asing (walaupun namanya ASEAN) sedangkan pihak Indonesia akan semakin terpinggirkan.

Dengan diberlakukan sertifikasi profesi jasa konstruksi berdasarkan MRA maka justru di Indonesia banyak pekerja profesional ASEAN sedangkan pekerja Indonesia  terpinggirkan karena dianggap kurang bermutu disebabkan tidak mengantongi sertifikat. Hal ini harus dijadikan perhatian bagi  pemerintah  dan instansi yang terkait termasuk Departemen Pendidikan Nasional dalam hal ini  Dirjen Dikti.

Pekerja jasa konstruksi tingkat pekerjaan dari level bawah sampai level manager berbagai bidang produksi, pemasaran dan penjualan, merupakan kancah di mana pekerja Indonesia akan harus bersaing di Indonesia sendiri,  dengan kemungkinan arus kedatangan pesaing dari warga dari negera ASEAN. Selain itu, isyu mengenai gaji tentu akan menjadi hal yang menarik perhatian.

Bagaimanapun, solusi permasalahan di atas  perlu dipersiapkan mulai dari sekarang termasuk dilakukan kajian-kajian dan sinergi antara Asosiasi Profesi dan Perguruan Tinggi dalam Peningkatan Mutu SDM di Bidang Jasa Konstruksi .

 

Sinergi antara Asosiasi Profesi dan Perguruan Tinggi

           

Sesuai dengan penjelasan Pasal 15 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Para lulusan perguruan tinggi dituntut memiliki keahlian dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan pasar, oleh karena itu semestinya asosiasi profesi harus dilibatkan dalam menentukan standar kelayakan program studi, penyusunan kurikulum dan penyampaian materi belajar.

Oleh karena itu  dalam menyikapi keadaan seperti di atas diperlukan kepedulian semua pihak termasuk kebijakan pemerintah untuk mendorong sinergi antara asosiasi profesi dan perguruan tinggi. Pada umumnya asosiasi profesi adalah organisasi yang pengurus dan anggotanya telah bekerja di bidangnya,  dan mereka telah banyak memiliki berbagai pengalaman kerja dalam menghadapi persoalan serta kasus yang terjadi di lapangan.

Sebagai contoh perguruan tinggi yang bekerja sama dengan asosiasi profesi yaitu Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) Jurusan Teknik Sipil dengan asosisiasi profesi A2K4I (Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Indonesia) dan IQSI (Ikatan Quantity Survey Indonesia) dalam hal:

  • penyelenggaraan proses belajar mengajar Program Studi Teknik Konstruksi Gedung,
  • penyusunan kurikulum
  • pengajaran (penyampaian materi)
  • Sertifikasi Ahli K3 Konstruksi bagi dosen dan mahasiswa

Dampak yang dirasakan oleh PNJ Jurusan Teknik Sipil dengan adanya sinergi kedua pihak tersebut di atas adalah:

  • Kurikulum didesain mengarah pada kompetensi yang diperlukan oleh pasar industri konstruksi.
  • Materi ajar merupakan materi yang bersifat up to date (terkini) sesuai dengan perkembangan teknologi yang digunakan di lapangan.
  • Atmosfier belajar menjadi meningkat karena mahasiswa dihadapkan dengan studi kasus yang nyata di lapangan.
  • Ada trasfer of  knowledge  dan link and match di antara asosiasi profesi dan PNJ jurusan Teknik Sipil
  • Banyak kegiatan dan studi yang dapat dilakasanakan bersama-sama, termasuk sertifikasi keahlian secara nasional maupun internasional.

Dari contoh kerjasama antara PNJ dengan kedua Asosiasi tersebut di atas dapat dijadikan contoh bagi perguruan tinggi lainnya, bahwa banyak keuntungan bagi kedua belah pihak apabila dilakukan. Oleh karena itu sudah saatnya saling sinergi antara pendidikan tinggi, asosiasi profesi dan stakeholder lainnya di dalam meningkatkan mutu SDM di Indonesia ini.

Aturan yang jelas didukung dengan kebijakan pemerintah dalam peningkatan mutu SDM yang berkelanjutan, diharapkan dapat menjawab tantangan dan persoalan tentang ketenaga kerjaan di Indonesia. Harapannya adalah semoga tenaga kerja Indonesia dapat menjadi tuan di negaranya sendiri, sehingga bukan menjadi penonton saja.

Oleh: beamnews | Mei 5, 2008

PEDULI LINGKUNGAN

SAMPAH
– Setiap harinya warga Jakarta menghasilkan sampah 6000 ton atau sekitar 860 ribu ton C02/ tahun

– Sampah yang dihasilkan oleh tiap warga Jakarta setiap harinya 3 liter atau setara dengan 64,8 kg CO2/tahun

– Jika seluruh sampah yang dihasilkan warga Jakarta dalam seminggu dikumpulkan, maka bias memenuhi Stadion Utama Senayan.

MAKSIMALKAN PENGGUNAAN MATAHARI
– Kalo bisa pakai cahaya matahari gratis, kenapa harus menyalakan lampu? Jangan biarkan tirai jendela menghalangi masuknya cahaya matahari ke dalam ruangan.

– Tahukah kamu? Sekitar 40% penggunaan listrik di rumah, dipakai untuk penerangan atau lampu

KENAPA HARUS HEMAT LISTRIK PADA PUKUL 17.00-22.00 wib?
Jika 10 juta pelanggan di Jawa-Bali mampu menghemat listrik sebesar 50 watt selama pukul 17.00-22.00 wib maka keuntungannya :

Energi listrik yang berhasil dihemat sebesar 2.500MWh/hari
Biaya yang bisa dihemat Negara sebesar Rp. 5,25 milyar/hari.
Emisi CO2 yang dihasilkan bisa diturunkan

Pada jam tersebut penggunaan listrik Jawa-Bali hampir mencapai 15.000 MW, sementara kapasitas pembangkit Jawa-Bali hanya 15.000 MW

KERUGIAN YANG TIDAK DISADARI..
Pada kondisi stand by , alat elektronik masih mengalirkan listrik sebesar 5 watt.
Membiarkan TV, computer, tape dan DVD player berada pada kondisi standby selama 8 jam/ hari berarti kita :
Melakukan PEMBOROSAN listrik sebesar 160 watt jam/hari
Membuang uang sebesar Rp. 35.000/ tahun
Memboroskan emisi sebesar 43 kg CO2/tahun
Printer yang sedang tidak digunakan namun kabelnya selalu terpasang akan menghasilkan emisi sebesar 21 kg CO2 atau Rp. 17.000/tahun.

MONITOR KOMPUTER
Monitor computer jenis LCD ternyata lebih hemat dibandingkan jenis CRT. Monitor jenis LCD hanya memerlukan listrik sebesar 40 watt, sementara CRT 120 watt.
Saat standby monitor LCD 5 watt, sedangkan monitor CRT 20 watt

TIPS MENGHEMAT LISTRIK PADA KULKAS
– Periksa karet pintu kulkas dengan cara menyelipkan kertas pada pintu kulkas saat menutup kulkas, jika kertas meluncur jatuh, itu artinya kulkas tidak dapat menutup rapat.Ganti karet tersebut agar kulkas tetap dingin

– Hindari memasukan makanan atau minuman yang masih panas ke dalam kulkas, karena akan membuat kulkas bekerja lebih berat.
– Isi kulkas dengan barang secukupnya agar tetap dingin.
– Pilih kulkas yang melakukan defrost secara otomatis, karena lebih hemat energi
– Pilih kulkas yang sesuai dengan kebutuhan anda, semakin besar ukuran kulkas semakin besar watt yang dibutuhkan.

LEBIH UNTUNG MANA PAKAI LAMPU BOHLAM ATAU LAMPU HEMAT ENERGI (CFL)

UnitLampu bohlamCFL
DayaWatt4011
HargaRp.500025000
Masa PakaiJam750 jam10.000 jam
Pengeluaran bulanan
Pemakaian harianJam/hari1010
Biaya Listrik/KwhRp. /Kwh560560
Total Biaya listrik/bulanRp. /Bulan6.7201. 848
Pengeluaran 1 tahun
Biaya listrikRp./tahun80. 54022.175
Biaya investasi lampuRp./tahun24. 00025.000
Total biaya listrik/tahun 104.64047.176

TIPS MEMILIH AC
– Pilih kapasitas AC yang tepat , dengan acuan kapasitas berkisar setara 600BTU/jam/m2
– Pilihlah AC dengan Freon yang ramah lingkungan seperti Freon hydrocarbon
– Pilihlah AC dengan kemampuan mendinginkan yang paling tinggi namun dengan energi yang paling sedikit.

TIPS MENGHEMAT KERTAS DIKANTOR
– Hindari mencetak dokumen yang tidak penting
– Gunakan kertas bolak balik, tindakan ini bisa menghemat penggunaan kertas 50%
– Kumpulkan kertas yang satu sisinya sudah masih kosong. Pakai ulang kertas tersebut untuk mencetak dokumen atau buku catatan.
– Kumpulkan kertas bekas yang telah digunakan kedua sisinya serta sampah kertas lainnya, untuk didaur ulang.

KALAU SETENGAH WARGA JAKARTA MENGISTIRAKAN MOBILNYA
– Terbebas dari kemacetan, karena jumlah kendaraan bermotor pribadi di jalanan berkurang.
– Hemat BBM
– Terbebas polusi udara, karena berkurangnya zat pencemar udara.
– Ruang terbuka hijau semakin luas karena kebutuhan akan lahan parkir berkurang.
MENCUCI TANGAN
Sehabis membilas jangan lupa kembalikan tuasnya ke posisi semula agar tidak ada air yang terbuang.

PRODUK IMPORT
– Produk import menghasilkan emisi CO2 dalam proses pengirimannya, semakin banyak membeli makanan import, maka semakin besar kontribusi emisi CO2

– Menggunakan produk dalam negeri berarti turut mencegah pemanasan global.

MINUM AIR
– Usahakan untuk menghabiskan air minum di gelas/botol
– Hindari membuang air minum yang tersisa di gelas/botol. Gunakan untuk menyiram tanaman, mencuci tangan dsb.

PENGGUNAAN TISU
– Aneka jenis tisu diproduksi dari serat kayu dan tidak dapat didaur ulang

– Gunakan lap/serbet yang bisa dipakai berulangkali untuk lap piring, serbet makan, dan lap meja dll

KENAPA HARUS HEMAT MINYAK GORENG..?
Minyak goreng dibuat dari kelapa sawit, sementara kegiatan perkebutan kelapa sawit telah mengubah wajah hutan alam Indonesia.
Areal kawasan hutan Indonesia yang telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit (1982-1999) seluas 4,1 juta hektar, sementara permintaan kelapa sawit meningkat dari 21,8 juta ton (tahun 2000) menjadi 40,5 juta ton sebelum tahun 2020.
Bagian hutan yang diubah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit adalah lahan gambut, sementara hutan gambut menyerap emisi karbon lebih besar dibanding hutan pada umumnya.

TEH CELUP
Kantung teh celup terbuat dari bahan yang sulit hancur, PILIHLAH TEH BUBUK BUKAN TEH CELUP.

EFEK RUMAH KACA
Panas matahari menembus lewat atmosfer.
Sebagian panas matahari diserap oleh bumi dan memanasinya
Panas matahari sebagian dipantulkan kembali, panas matahari sebagian dipantulkan kembali oleh atmosfer dari bumi
Sebagian panas yang dipantulkan bumi diserap oleh gas-gas di atmosfer sehingga menahan panas keluar dari atmosfer.

Oleh: beamnews | April 3, 2008

Manajemen Transportasi

Perencanaan dan Manajemen Transportasi

Oleh: Kusumo DS

(Dosen Teknik Sipil Politeknik Negeri Jakarta)

Tingkat polusi udara yang semakin meningkat tidak dapat dipisahkan dengan masalah perencanaan dan manajemen transportasi. Manajemen transportasi yang baik memang harus diterapkan untuk melancarkan arus lalu lintas dan meningkatkan tingkat mobilitas serta berkelanjutan.  Upaya ini sangat baik karena dapat menurunkan tingkat emisi dan konsumsi bahan bakar.Untuk itu diperlukan pemikiran dan perencanaan yang tepat dalam membuat sebuah sarana transportasi umum yang dapat memecahkan permasalahan lingkungan yang diakibatkan perningkatan kebutuhan akan transportasi, selain juga menurunkan kemacetan lalu lintas.
Sistem transportasi umum yang dikelola dengan baik dapat menurunkan tingkat pertumbuhan jumlah pengendara kendaraan pribadi dan motor pertahunnya dalam periodeh 2000 – 2005 – 2006 – 2015 sebesar 0,8 kali dan 0,5 kali dari pertumbuhan selama periode 1999 –2000. Hal ini dapat menurunkan tingkat polutan secara signifikan.
Untuk membangun sistem transportasi yang baik memang memerlukan proses yang jangka panjang. Pertumbuhan kendaraan yang pesat seperti sekarang ini dalam bidang teknologi tidak dapat memecahkan masalah polusi udara, karena itu diperlukan efektivitas dari tranportasi umum itu sendiri agar menjadi kunci penurunan emisi kendaraan jangka panjang.
Kebijakan pemerintah kota dalam pengelolaan transportasi yang salah akan berakibatkan fatal dibelakang hari. Sebagai contoh: Kebijakan pemberian ijin usaha angkutan darat dengan jarak pendek menggunakan “AngKot” (Angkutan kota dengan mobil kecil) Kerugian apa dikemudian hari?

·        Penggunaan BBM sangat besar dan boros.

·        Terjadi kemacetan disetiap jaringan jalan terutama pada pusat-pusat keramian.

·        Sulit pengaturannya.

·        Beban kota semakin tinggi seperti penggunaan lahan untuk terminal dan parkir kendaraan.

·        Tingkat polusi udara yang tinggi

·        Timbul masalah keamanan dan keselamatan

·        Keindahan dan kebersihan kota akan terganggu

·        Dll.

Transportasi merupakan pemindahan barang dan manusia dari tempat asal (dari mana kegiatan pengangkutan dimulai) ke tempat tujuan (kemana kegiatan pengangkutan diakhiri). Transportasi bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk mencapai tujuan yang berusaha mengatasi kesenjangan jarak dan waktu. Jasa transportasi merupakan salah satu factor masukan (input) dari kegiatan produksi, perdagangan, pertanian, dan kegiatan ekonomi lainnya.Manusia sangat membutuhkan transportasi karena untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sangat beraneka ragam yang umumnya berkaitan dengan produksi barang dan jasa. Selain itu manfaat transportasi dapat dilihat dari berbagai segi kehidupan masyarakat, yakni manfaat ekonomi, manfaat social, manfaat politis, dan manfaat kewilayahan.Kemudahan yang dapat diperoleh karena transportasi bagi manusia adalah mudahnya mengatasi jarak anatara sumber daya manusia dengan sumber daya alam atau barang produksi yang dibutuhkan manusia yang terletak pada masing-masing geografi.Karena begitu pentingnya transportasi bagi kehidupan manusia, maka perlu dilakukan pengelolaan atau manajemen transportasi yang baik.Pada umumnya, manajemen transportasi menghadapi tiga tugas utama:

1.     Menyusun rencana dan program untuk mencapai tujuan dan misi organisasi secara keseluruhan,

2.     Meningkatkan produktivitas dan kinerja perusahaan

3.     Mengoperasikan angkutanSecara garis besar, manajemen transportas dapat ditinjau dari dua sisi yaitu:

1.     Manajemen transportasi dalam industri atau perusahaan

2.     Manajemen transportasi dalam masyarakat (public transport)Sedangkan jenis alat transportasi yang sudah umum dikenal yaitu meliputi:

1.     Angkutan jalan raya2.     Angkutan kereta api

3.     Angkutan sungai, danau dan penyeberangan (ASDP)

4.     Angkutan laut

5.     Angkutan udara

6.     Angkutan pipa

7.     Angkutan gabungan (kontainerisasi)

Negara dan kota yang telah maju tidak terdapat Angkot, mereka menggunakan angkutan masal yang bersih dan nyaman, seperti: angkutan kereta listrik, monorel atau MRT.Upaya penurunan emisi gas kendaraan ini telah dimulai dengan adanya program Busway di Jakarta dan akan diikuti dengan sistem transportasi yang lebih konprehensif dalam tingkat makro. Peran Pemerintah dalam masalah penurunan emisi gas buang memang sangat besar, kerena kebijakan yang dihasilkan dalam hal tata transportasi memungkinkan adanya perubahan dalam masalah transportasi.
Inisiatif dari pemerintah daerah dalam masalah transportasi memang sangat diperlukan, karena manajemen dan perencanaan transportasi seharusnya dilakukan oleh pemerintah daerah terutama dinas perhubungan. Contoh yang bisa dilihat Jakarta, di wilayah Jakarta ini harus diciptakan sebuah sistem penegakan pengawasan atas penggunaan lahan agar mengacu sesuai dengan master plan Jakarta.
Dalam menjalankan master plan ini seharusnya diadakan evaluasi atas penggunaan lahan yang ada dan juga penyelenggaraan dengar pendapat seputar draft regulasi sebagai revisi dari penggunaan lahan. Tindakan lain yang dapat dilakukan dalam mencangkup persiapan atas blueprint infrastruktur transportasi yang berkesinambungan dan skema pengaturan keperluan lalu lintas yang komprehensif.
Kegiatan inspeksi dan perawatan (I&M) diimplementasikan berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan no 14 tahun 1992. Dalam rangka meningkatkan implementasinya, regulasi yang berlaku seharusnya dikaji ulang dan kebijakan pemerintah seputasr inspeksi kendaraan pada tingkat nasional juga dikembangkan beriringan.
Program ini harus dilaksanakan secara aktif pada tingkat nasional melalui pengembangan standar operasi dan prosedur I&M dan sistem informasi untuk penyebaran data. Juga diperlukan sistem keperluan pelaporan dari program ini. Kampanye publik juga menjadi sarana efektif yang menjadi komponen penting dalam mempromosikan program ini secara nasional.
Bagaimana dengan manajemen transportasi Kota -depok?

Semoga dapat belajar dari pengalaman pengelolaan transportasi kota-kota besar di Indonesia yang masih banyak tidak teratur untuk tidak terulang di Kota – kota yang sedang tumbuh.

Oleh: beamnews | Maret 15, 2008

Check out my Slide Show!

Kategori