Oleh: beamnews | Mei 27, 2009

Membangun Sinergi antara Asosiasi Profesi dan Perguruan Tinggi dalam Peningkatan Mutu SDM di Bidang Jasa Konstruksi

Membangun Sinergi antara Asosiasi Profesi dan Perguruan Tinggi dalam Peningkatan Mutu SDM di Bidang Jasa Konstruksi.

Oleh Ir. Kusumo Dradjad S, MSi

Di dalam penyediaan SDM jasa konstruksi yang berkualitas dan efisien pada masa globalisasi ini menjadi  sangat penting bagi negara Indonesia, mengapa demikian, karena adanya kesepakatan antara negara-negara dalam kerangka General Agreement on Trade in Services (GATS). Dengan GATS negara-negara dapat melakukan negosiasi-negoisiasi dalam membuka pasar termasuk hal ini adalah bidang jasa konstruksi, oleh karena itu apabila Sumber Daya Manusia (SDM) bidang konstruksi di Indonesia tidak meningkatkan kualitasnya akan kalah bersaing dengan SDM dari negara lain.

Bidang jasa konstruksi merupakan lingkup pekerjaan yang mempunyai karakteristik tersendiri, bidang ini menuntut SDM yang memiliki inovasi tinggi, penggunaan teknologi canggih yang terus berkembang, penggunaan sistem pengelolaan manajemen yang baik dan dapat mengendalikan resiko bahaya dan kecelakaan. Untuk mendapatkan hasil kerja yang bermutu, efisien tanpa ada kecelakaan  tentunya dibutuhkan SDM yang memiliki kompetensi dan integritas tinggi.

Cara di dalam mendapatkan SDM yang berkualitas dan standar menurut kompetensi profesi dalam sektor jasa konstruksi maka dibutuhkan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong stakeholder, perguruan tinggi,  asosiasi profesi, LPJK, BNSP serta pemegang sertifikat keahlian (SKA) selalu mengembangkan diri mengikuti Mutual Recognation Agreements (MRA) yang diwujudkan dalam bentuk ASEAN Chater Profesional Engineers (ACPE) ataupun badan internasional yang lain.

 

Konsekwensi dan ancaman MRA dan ACPE bagi Indonesia

 

Pada tgl. 1 Januari 2010 ASEAN tahun depan ini, termasuk Indonesia, telah sepakat memberlakukan Liberalisasi ASEAN bidang Jasa, termasuk bidang Jasa konstruksi dan Penerbangan. Di bidang jasa konstruksi ini berarti bahwa perusahaan ASEAN maupun tenaga kerja ASEAN diperbolehkan bekerja dimana saja di ASEAN asal mempunyai sertifikat.

Indonesia mengharapkan bahwa dengan diberlakukannya MRA di ASEAN ini,  maka tenaga kerja jasa konstruksi Indonesia yang trampil bisa mendapat pekerjaan di negara ASEAN lainnya.  Akan tetapi sebaliknya juga berlaku, yaitu bahwa pekerja jasa konstruksi ASEAN lainnya juga dibolehkan bekerja di Indonesia asal mempunyai sertifikat.

Memang pekerja lulusan perguruan tinggi bidang jasa konstruksi Indonesia banyak diminati baik di dalam negeri  maupun di luar negeri, akan tetapi mereka pada umumnya adalah pekerja pada level menengah ke bawah, dengan pendidikan paling tinggi sebagai supervisor.

Berbeda dengan, di Singapura dan Malaysia, pendidikan yang lebih diminati adalah justru pada tingkat manajemen. Jadi, dengan akan diberlakukannya MRA, Indonesia diperkirakan akan kebanjiran pekerja asing pada level manajemen ke atas, termasuk di bidang jasa konstruksi ini. Sedangkan pekerja Indonesia kebanyakan hanya mampu bekerja sampai pada level supervisor ke bawah.

Keadaan ini memungkinkan mereka yang lulus perguruan tinggi bidang konstruksi di Indonesia, akan bekerja di luar negeri dengan gaji lebih besar dari pada di Indonesia, sehingga pekerjaan konstruksi di Indonesia sendiri akan kekurangan pekerja yang terlatih  karena banyak sudah lari ke luar negeri. Maka jasa konstruksi Indonesia akan didominasi pihak asing (walaupun namanya ASEAN) sedangkan pihak Indonesia akan semakin terpinggirkan.

Dengan diberlakukan sertifikasi profesi jasa konstruksi berdasarkan MRA maka justru di Indonesia banyak pekerja profesional ASEAN sedangkan pekerja Indonesia  terpinggirkan karena dianggap kurang bermutu disebabkan tidak mengantongi sertifikat. Hal ini harus dijadikan perhatian bagi  pemerintah  dan instansi yang terkait termasuk Departemen Pendidikan Nasional dalam hal ini  Dirjen Dikti.

Pekerja jasa konstruksi tingkat pekerjaan dari level bawah sampai level manager berbagai bidang produksi, pemasaran dan penjualan, merupakan kancah di mana pekerja Indonesia akan harus bersaing di Indonesia sendiri,  dengan kemungkinan arus kedatangan pesaing dari warga dari negera ASEAN. Selain itu, isyu mengenai gaji tentu akan menjadi hal yang menarik perhatian.

Bagaimanapun, solusi permasalahan di atas  perlu dipersiapkan mulai dari sekarang termasuk dilakukan kajian-kajian dan sinergi antara Asosiasi Profesi dan Perguruan Tinggi dalam Peningkatan Mutu SDM di Bidang Jasa Konstruksi .

 

Sinergi antara Asosiasi Profesi dan Perguruan Tinggi

           

Sesuai dengan penjelasan Pasal 15 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Para lulusan perguruan tinggi dituntut memiliki keahlian dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan pasar, oleh karena itu semestinya asosiasi profesi harus dilibatkan dalam menentukan standar kelayakan program studi, penyusunan kurikulum dan penyampaian materi belajar.

Oleh karena itu  dalam menyikapi keadaan seperti di atas diperlukan kepedulian semua pihak termasuk kebijakan pemerintah untuk mendorong sinergi antara asosiasi profesi dan perguruan tinggi. Pada umumnya asosiasi profesi adalah organisasi yang pengurus dan anggotanya telah bekerja di bidangnya,  dan mereka telah banyak memiliki berbagai pengalaman kerja dalam menghadapi persoalan serta kasus yang terjadi di lapangan.

Sebagai contoh perguruan tinggi yang bekerja sama dengan asosiasi profesi yaitu Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) Jurusan Teknik Sipil dengan asosisiasi profesi A2K4I (Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Indonesia) dan IQSI (Ikatan Quantity Survey Indonesia) dalam hal:

  • penyelenggaraan proses belajar mengajar Program Studi Teknik Konstruksi Gedung,
  • penyusunan kurikulum
  • pengajaran (penyampaian materi)
  • Sertifikasi Ahli K3 Konstruksi bagi dosen dan mahasiswa

Dampak yang dirasakan oleh PNJ Jurusan Teknik Sipil dengan adanya sinergi kedua pihak tersebut di atas adalah:

  • Kurikulum didesain mengarah pada kompetensi yang diperlukan oleh pasar industri konstruksi.
  • Materi ajar merupakan materi yang bersifat up to date (terkini) sesuai dengan perkembangan teknologi yang digunakan di lapangan.
  • Atmosfier belajar menjadi meningkat karena mahasiswa dihadapkan dengan studi kasus yang nyata di lapangan.
  • Ada trasfer of  knowledge  dan link and match di antara asosiasi profesi dan PNJ jurusan Teknik Sipil
  • Banyak kegiatan dan studi yang dapat dilakasanakan bersama-sama, termasuk sertifikasi keahlian secara nasional maupun internasional.

Dari contoh kerjasama antara PNJ dengan kedua Asosiasi tersebut di atas dapat dijadikan contoh bagi perguruan tinggi lainnya, bahwa banyak keuntungan bagi kedua belah pihak apabila dilakukan. Oleh karena itu sudah saatnya saling sinergi antara pendidikan tinggi, asosiasi profesi dan stakeholder lainnya di dalam meningkatkan mutu SDM di Indonesia ini.

Aturan yang jelas didukung dengan kebijakan pemerintah dalam peningkatan mutu SDM yang berkelanjutan, diharapkan dapat menjawab tantangan dan persoalan tentang ketenaga kerjaan di Indonesia. Harapannya adalah semoga tenaga kerja Indonesia dapat menjadi tuan di negaranya sendiri, sehingga bukan menjadi penonton saja.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: