Oleh: beamnews | Juni 29, 2009

PROSPEK PERKEMBANGAN INDUSTRI BAJA LAPIS SENG, SENG ALUMINIUM DAN TIN PLATE DI INDONESIA, 2008

                                                                                 

Sejak krisis ekonomi di akhir tahun 1990-an yang memberi tekanan berat dan berkepanjangan kepada industri metal coating di Indonesia, recovery pasar metal coating tidak terjadi dalam satu-dua tahun. Industri ini mengalami kesulitan likuiditas serius. Sebagian terpaksa berhenti beroperasi, setidaknya untuk sementara. Beberapa perusahaan melakukan merger/akuisisi dalam rangka efisiensi. Langkah lainnya, mencoba meningkatkan penetrasi ke pasar ekspor, terutama  oleh produsen-produsen yang tergolong besar.  

Mulai bergairahnya kembali sektor konstruksi dan property serta industri manufactur yang memakai coating steel sheet untuk casing/body seperti otomotif dan lemari pendingin belakangan ini, maka pada tahun 2004 produksi GI sheet sudah mencapai 460.500 ton. Berarti sudah menyamai kondisi pra krisis. Bahkan tahun 2005 produksinya  telah melampaui tahun 1997, yaitu  sekitar 522 ribu ton.  Hingga 2007 sejalan dengan membaiknya daya beli masyarakat, produksi GI sheet nasional sudah mencapai 585.000 ton. Produk-produk berbahan coated steel sheet juga semakin variatif (inovatif), seperti genteng baja (rooftile steel), cenderung semakin digemari karena  ringan tapi kuat, dengan banyak warna pilihan.

Hanya saja di tengah perkembangan yang positif itu, pasar metal coating sheet domestic  dibayangi oleh maraknya kembali produk-produk non standar berkualitas rendah yang harganya miring, termasuk eks impor. Padahal tingkat persaingan sudah sangat ketat. Harga baja dunia mengalami fluktuasi yang sangat tajam dalam dua tahun terakhir.  Faktor-faktor  eksternal ini mengganjal industri metal coating sheet mengoptimalkan kapasitas, kecuali untuk zinc-alum coating (ZiAl) yang sudah berada pada  level full capacity.  

Sementara itu pada 28 Februari 2008 lalu, pemerintah telah menetapkan sanksi Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap impor HRC dari lima negara pemasok utama, China, Taiwan, Thailand, Rusia dan India, maka kelangsungan industri CRC, baja lapis seng (BjLS) atau GI-sheet, baja lapis timah hingga industri baja hilir di dalam negeri menjadi terancam.  PT Essar Indonesia misalnya, produsen CRC dan GI-sheet itu mengaku selama ini mendapat kesulitan memperoleh bahan baku di dalam negeri, akibat tersendatnya pasokan HRC dari PT KS. Sebab sebagian besar bahan baku industri CRC-nya masih harus dipasok dari perusahaan induknya di India, atau dari negara importir HRC China maupun Taiwan.

Kondisi ini akan semakin berat mengingat pemerintah pada akhir Maret 2008 lalu, menetapkan tidak memperpanjang lagi SK Peraturan Menteri Keuangan No. 85/PMK.011/2007 yang menghapus bea masuk HRC ketebalan di bawah 2 mm hingga 0% selama enam bulan sejak 7 Agustus 2007, atau  masa berlakunya telah berakhir sejak Februari 2008 lalu. Dengan begitu, kini bahan baku tersebut harus diimpor dengan bea masuknya HRC yang umumnya sebesar 5%.

Selain GI sheet, dan coated steel sheet, juga dibahas dalam laporan ini kinerja industri tin plate.  Tin plate adalah bahan baku kemasan, terutama untuk industri makanan, seperti makanan dalam kaleng (canned food), juga industri cat, minyak goreng, dan industri baterai. Tin plate di Indonesia hanya diproduksi oleh satu-satunya produsen PT Latinusa.

 

(Sumber : PT. MEDIA DATA RISET)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: