Oleh: beamnews | Agustus 7, 2009

Peranan Perguruan Tinggi dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia yang handal di bidang Industri dan Konstruksi Baja Indonesia

Materi Seminar Bangkit Industri Baja Indonesi

5 Agustus 2009

Peranan Perguruan Tinggi dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia yang handal di bidang Industri dan Konstruksi Baja Indonesia

 

Ir. Kusumo Dradjad S, MSi

Dosen Politeknik Negeri Jakarta

 

 

Ngelmu Tanpa laku Kothong, Laku Tanpa Ngelmu Cupet – (Ki Hajar Dewantara-KHD)

Menuntut ilmu tanpa mempraktekannya, menjadikan ilmu orang tersebut tidak berisi demikian pula  bekerja tanpa dilandasi ilmu akan menghasilkan  pekerjaan  tidak baik.

Filsafat dari KHD ini menjadikan kita sadar bahwa belajar di perguruan tinggi tidak hanya belajar keilmuanya saja saat di dalam kampus, namun harus disertai belajar praktek dan aplikasinya diluar kampus, tentu saja  harus melibatkan pihak industri, asosiasi, dan stake holder lainnya agar ilmu yang dituntut menjadi lebih sempurna dan berdaya guna bagi kehidupan manusia.

 Berbicara mengenai perguruan tinggi berarti membicarakan tentang pendidikan, seberapa penting pendidikan itu di mata bangsa dan Negara. Pendidikan itu adalah paspor untuk memasuki masa depan. Suatu bangsa dan negara yang tidak peduli dengan pendidikan, maka dimasa datang bangsa tersebut akan tergilas dan tertindas oleh bangsa dan negara lain yang telah maju.

 Negara super power banyak memiliki perguruan tinggi kelas dunia dengan berbagai program studi yang dimiliki seperti Amerika, Inggris, Jepang  dan lainnya.  Mereka menjadi besar, kuat  dan maju karena di negaranya banyak orang pintar. Bisnis baru dan perusahaan baru setiap hari banyak bermunculan di negara maju, mereka tentunya akan memanfaatkan peluang aturan yang dibuat dalam golbalisasi saat ini. Sehingga sangat dimungkinkan  mereka berbisnis dengan mengusung SDM dan teknologinya di  Indonesia,  sementara kita sebagai tuan rumah hanya sebagai penonton. Hal seperti ini akan dapat terjadi dimasa kini apabila pendidikan di Indonesia terabaikan.

Masa globalisasi telah bergulir dan teknologi telah semakin canggih, saat ini sudah tidak lagi ada hambatan tentang jarak dan waktu. Belajar sekarang ini tidak harus didalam kampus dan perpustakaan, namun orang saat ini dapat melakukan pengembangan diri cukup dalam suatu ruangan yang dilengkapi dengan seperangkat komputer yang terkoneksi dengan internet. Bahkan tidak sekedar mengembangkan diri saja namun orang dapat mempunyai usaha, berbisnis apa saja melalui ruangan tersebut. Teknologi Informasi (TI) sedemikian cepat perkembangannya sehingga turut serta dalam merevolusi sistem pendidikan, yang menjadi pertanyaan, siapkah masyarakat kita “Masayarakat Baja Indonesia”  menghadapi keadaan seperti ini?

Namun demikian tidak usah berkecil hati, masyarakat kita telah ada usaha-usaha mengatasi hal tersebut seperti yang dilakukan oleh beberapa perusahaan, industri, asosiasi dan instansi pemerintah di dalam memanfaatkan TI, meskipun sifatnya masih untuk kebutuhan/ kepentingan masing-masing. Apabila diantara mereka dapat dipadukan tentunya akan menjadi suatu kekuatan yang sangat besar. Sebagai contoh kerja sama yang dilakukan sebuah perusahaan dibidang teknologi informasi baja di Indonesia,  sebut saja  SteelIndonesia.com  dengan IISA, dan  Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI) serta Perguruan Tinggi, disana orang mendapatkan informasi baja, belajar baja, mengembangkan baja,  bahkan sampai berbisnis baja  cukup didepan komputer.  Hal ini sebagai perwujudan link and match  untuk menciptakan suatu kekuatan yang besar di Indonesia sehingga “Bangkit Baja Indonesia“ dapat terwujud dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat di bumi pertiwi ini.

I. Kaitannya Peranan Perguruan Tinggi dengan Industri Baja

Kaitannya peranan perguruan tinggi di dalam meningkatkan sumber daya manusia  (SDM) terhadap kebutuhan industri telah tertuang di  program  rencana strategis (Renstra)  Departemen Pendidikan Nasional. Pada  Renstra dijelaskan bahwa Dalam rencana pembangunan jangka panjang Departemen Pendidikan Nasional 2005-2025, ada  empat tema strategis pembangunan pendidikan, yaitu:

  1. Peningkatan kapasitas dan modernisasi,
  2. Penguatan pelayanan,
  3. Daya saing regional,
  4. Daya saing internasional.

Setiap tema strategis pembangunan pendidikan jangka panjang di atas, akan diturunkan dalam program kerja departemen sesuai kebijakan pembangunan jangka menengah yang menekankan pada 3 tantangan utama, yaitu:

  1. Pemerataan dan perluasan akses
  2. Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing;
  3. Peningkatan tata kelola, akuntabilitas dan citra publik.

Memperhatikan Renstra yang dibuat oleh oleh Departemen Pendidikan Nasional  tentang daya saing regional dan internasional, sangat sedikit Perguruan Tinggi  memiliki program studi di bidang baja umumnya dikenal dengan jurusan metalurgi dan jurusan mesin dan perguruan tinggi lainnya hanya diberikan berupa mata kuliah, hal ini tetunya sangat memprihatinkan sekali. Bagaimana daya saing baja Indonesia dapat berbicara di tingkat regional dan nasional apabila SDM nya tidak menguasai bidang baja. Berbicara tentang pendidikan baja sangat luas sekali.

Semestinya Universitas, Institut, politeknik dan perguruan tinggi lainnya sudah saatnya untuk membuka Program Studi Baja. Mengapa demikian? Karena baja merupakan industri strategis yang dimiliki oleh bangsa dan negara di dunia.  Indonesia memiliki tambang biji besi, mangaan dan sebagainya yang sangat besar dapat diolah menjadi baja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan kepentingan negara serta bangsa seperti:

  1. Perkakas rumah
  2. Peralatan tangan
  3. Mesin Produksi/ Industri
  4. Pendidikan
  5. Peralatan laboraturium
  6. Konstruksi bangunan
  7. Alat Transportasi
  8. Peralatan perang
  9. Peralatan Kesehatan/ Rumah Sakit

10.  dll

melihat itu tentunya sangat banyak SDM profesional bidang baja yang dibutuhkan di Negara Indonesia ini. Mengapa demikian, karena baja merupakan matrial olahan dari hulu sampai hilir yaitu mulai pekerjaan pengolahan biji besi sampai terbentuk barang jadi yang dibutuhkan, semuanya itu dapat dibuat di negara kita ini. Apabila melihat contoh di atas, dapat diketahui betapa pentingnya peranan perguruan tinggi di dalam mencetak manusia yang menguasai dan ahli di berbagai bidang ilmu dan keahlian tentang baja. Untuk diketahui bahwa negara-negara maju memiliki parameter-parameter antara lain:

  • Banyaknya jumlah hak paten yang dimiliki
  • Banyaknya Jumlah perguruan tinggi kelas dunia
  • Besarnya Anggaran pendidikan dan penelitian setiap tahunnya
  • Besarnya komsumsi baja per kapita di negara tersebut.

Tabel Produksi dan Konsumsi Baja ASEAN 1998-2006
 
 Sumber: PT Krakatau Steel

Dengan mengetahui parameter tsb di atas peranan Perguruan Tinggi bersama –sama Departemen Perindustrian serta stake holder terkait lainnya dapat membuat program-program yang bersinergi, untuk berkarya nyata bagi bangsa dan negara dalam memajukan bangsa Indonesia sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat dan dapat sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya di dunia ini.

II. Jalur dan Jenjang pendidikan yang terkait dengan bidang baja.

Pelaksanaan pendidikan nasional berlandaskan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

a. Jalur Pendidikan
Bidang ketrampilan dan keahlian baja semestinya dapat ditempuh melalui jalur pendidikan: 

  1. pendidikan formal,
  2. nonformal, dan
  3. informal.

Penjelasan dari masing-masing bidang seperti diuraikan di bawah ini.

1. Jalur Pendidikan Formal

Untuk pendidikan formal bidang baja tentunya dapat dimulai dari jenjang:

1)   Pendidikan menengah yaitu Sekolah Menengah Kejuruan:

  1. SMK Jurusan Mesin,
  2. SMK Perkapalan,
  3. SMK Otomotif
  4. SMK Bangunan
  5. Dan SMK lainnya yang berkosentrasi pada bidang baja

2)   Pendidikan tinggi.

  1. Politeknik dan Diploma: D1, D2, D3 dan D4 dengan jurusan yang terkait dengan pekerjaan baja. Seperti: Jurusan Teknik Sipil, Jurusan Mesin, Jurusan Perkapalan dsb.
  2. Politeknik dan Diploma khusus bidang studi industri baja (berupa usulan) misalnya: Jurusan Pengolahan Biji Besi, Jurusan Konstruksi Baja, Jurusan Bisnis Baja dsb.
  3. Pendidikan program vokasional jalur kedinasan  bidang baja
  4. Universitas, institut dan Sekolah Tinggi: S1, S2 dan S3 dengan jurusan:
  • Fakultas Teknik: Jurusan Metalurgi, Jurusan Mesin Industri, Jurusan Teknik Sipil
  • Fakultas MIPA: Jurusan Matrial, dsb

Pada Jalur Perguruan tinggi dikewajibkan menyelenggarakan Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

 Di dalam penyelenggaraan pendidikan jalur formal, Pakar Pendidikan Politeknik (Ir.Hadiwaratama, MSc.E) di Indonesia , telah membuat konsep konsentrasi untuk setiap jenis jalur pendidikan. Dari konsep tersebut sangat cocok apabila pengembangan pendidikan  bidang baja dikembangkan di Indonesia.

Jalur akademik  mulai dari Strata ! sampai Strata III berkosentrasi melakukan resarch dan pengembangan bidang baja dari hulu sampai hilir, sedangkan politeknik beserta Diploma lainnya melakukan rekayasa engeneering & Development serta mengembangkan desain. Selain hal tersebut politeknik dapat mengerjakan manufacturing production & process .

Dengan melakukan kosentrasi pendidikan bidang baja di perguruan tinggi seperti di atas, peranan perguruan tinggi akan sangat terlihat di dalam penyediaan  SDM bidang baja yang ahli dan profesional.

Melaksanakan pendidikan bidang baja diperlukan comitment dari semua pihak dan unsur, konsep sekolah baja apabila ingin dikembangkan di Indonesia tentunya diperlukan benchmarking pada negara industri baja yang telah maju dan diperbanyak atau di buka jalur pendidikan politeknik, diploma maupun sekolah kejuruan.

Perbedaan utama antara pendidikan akademik dengan politeknik, diploma dan vokasional terletak dalam keahlian yang dicapai lulusannya. Lulusan pendidikan akademik lebih berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan secara teori, sedangkan lulusan pendidikan politeknik, diploma dan vokasional lebih pada penguasaan praktek dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan.

2. Pendidikan Nonformal

Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan bidang baja dari hulu sampai hilir yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional dibidang baja.
Pendidikan nonformal meliputi: 

  1. lembaga kursus,
  2. lembaga pelatihan,
  3. kelompok belajar,
  4. pusat kegiatan belajar masyarakat

Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan, julur pendidikan ini dapat digunakan untuk mendapatkan sertifikasi profesi ketrampilan dan keahlian bidang baja.

3. Pendidikan Informal

Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Inti dari peranan perguruan tinggi dalam meningkatkan SDM dibidang industri baja dan konstruksi baja adalah bagaimana mempersiapkan SDM yang memiliki kecakapan hidup, dapat mengolah sumber alam dibidang baja dari hulu sampai hilir disertai kemampuan wirausaha.

Konsepnya  Brolin (1989) dalam mengartikan kecakapan hidup yaitu bahwa kecakapan hidup merupakan interaksi dari berbagai pengetahuan dan kecakapan sehingga seseorang mampu hidup mandiri. Pengertian kecakapan hidup tidak semata-mata memiliki kemampuan tertentu (vokational job), namun juga memiliki kemampuan dasar pendukung secara fungsional seperti: membaca, menulis dan berhitung, merumuskan dan memecahkan masalah, mengelola sumber daya ,bekerja dalam kelompok, dan menggunakan teknologi. Sedangkan Barrie Hopson dan Scally (1981) mengemukakan bahwa kecakapan hidup merupakan pengembangan diri untuk bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang, memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan berhubungan baik secara individu, kelompok maupun melalui sistem dalam menghadapi situasi tertentu.

Dari pengertian di atas, dapat di artikan bahwa pendidikan kecakapan hidup di bidang baja merupakan kecakapan yang didasari dengan matrial baja yang dilakukan secara praktis dapat membekali peserta didik dalam mengatasi berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan. Kecakapan itu menyangkut aspek pengetahuan teknologi baja, sikap yang didalamnya termasuk fisik dan mental, serta kecakapan kejuruan, kecakapan berwirausaha yang berkaitan dengan pengembangan akhlak peserta didik sehingga mampu menghadapi tuntutan dan tantangan hidup dalam kehidupan.

Di sejumlah negara maju, meyakini bahwa program jalur pendidikan seperti politeknik, diploma dan vokasi merupakan andalan. Artinya, menjadi tumpuan bagi negara tersebut itu dalam membangun sistem kerja yang dapat sukses memasuki persaingan global. Dengan program berbasis ketrampilan kerja dan vokasi, banyak negara berhasil membangun ekonomi mereka dan lapangan kerja banyak diisi tenaga-tenaga vokasi berilmu pengetahuan.

III. Sertifikasi dan Asosiasi Profesi .

Peningkatan SDM di Indonesia tidak hanya tanggung jawab Departemen Pendidikan saja namun menjadi tanggung jawab dunia industri dan asosiasi profesi. Masa kini orang bekerja tidak cukup dengan pengakuan lulus perguruan tinggi berupa ijasah, namun lulusan perguruan tinggi masih harus diukur tingkat kopetensinya, dinyatakan dengan sertifikat keahlian/ ketrampilan yang dikelurakan oleh badan yang ditunjuk oleh pemerintah dan asosiasi profesi sebagai pihak penyelenggara.

Di dalam penyediaan SDM yang berkualitas dan efisien pada masa globalisasi ini menjadi  sangat penting bagi negara Indonesia, mengapa demikian, karena adanya kesepakatan antara negara-negara dalam kerangka General Agreement on Trade in Services (GATS). Dengan GATS negara-negara dapat melakukan negosiasi-negoisiasi dalam membuka pasar termasuk hal ini adalah bidang jasa, oleh karena itu apabila Sumber Daya Manusia (SDM) bidang jasa di Indonesia tidak meningkatkan kualitasnya akan kalah bersaing dengan SDM dari negara lain yang telah memiliki kompetensi standar (bersertifikat keahlian/ ketrampilan)

Seperti bidang jasa konstruksi merupakan lingkup pekerjaan yang mempunyai karakteristik tersendiri, bidang ini menuntut SDM yang memiliki inovasi tinggi, penggunaan teknologi canggih yang terus berkembang, penggunaan sistem pengelolaan manajemen yang baik dan dapat mengendalikan resiko bahaya dan kecelakaan. Untuk mendapatkan hasil kerja yang bermutu, efisien tanpa ada kecelakaan  tentunya dibutuhkan SDM yang memiliki kompetensi dan integritas tinggi.

Cara di dalam mendapatkan SDM yang berkualitas dan standar menurut kompetensi profesi dalam sektor jasa konstruksi maka dibutuhkan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong stakeholder, perguruan tinggi,  asosiasi profesi, LPJK, BNSP serta pemegang sertifikat keahlian (SKA) dan sertifikat ketrampilan (SKT) selalu mengembangkan diri mengikuti Mutual Recognation Agreements (MRA) yang diwujudkan dalam bentuk ASEAN Chater Profesional Engineers (ACPE) ataupun badan internasional yang lain.

Pada Januari 2010 ASEAN tahun depan ini, termasuk Indonesia, telah sepakat memberlakukan Liberalisasi ASEAN bidang Jasa, termasuk bidang Jasa konstruksi dan Penerbangan. Di bidang jasa konstruksi ini berarti bahwa perusahaan ASEAN maupun tenaga kerja ASEAN diperbolehkan bekerja dimana saja di ASEAN asal mempunyai sertifikat keahlian/ ketrampil.

Indonesia mengharapkan bahwa dengan diberlakukannya MRA di ASEAN ini,  maka tenaga kerja jasa konstruksi Indonesia yang trampil bisa mendapat pekerjaan di negara ASEAN lainnya.  Akan tetapi sebaliknya juga berlaku, yaitu bahwa pekerja jasa konstruksi ASEAN lainnya juga dibolehkan bekerja di Indonesia asal mempunyai sertifikat keahlian dan ketrampilan yang standar.

Pekerja jasa konstruksi tingkat pekerjaan dari level bawah sampai level manager berbagai bidang produksi, pemasaran dan penjualan, merupakan kancah di mana pekerja Indonesia akan harus bersaing di Indonesia sendiri,  dengan kemungkinan arus kedatangan pesaing dari warga dari negera ASEAN. Selain itu, isyu mengenai gaji tentu akan menjadi hal yang menarik perhatian.

Bagaimanapun, solusi permasalahan di atas  perlu dipersiapkan mulai dari sekarang termasuk dilakukan kajian-kajian dan sinergi antara Asosiasi Profesi dan Perguruan Tinggi dalam Peningkatan Mutu SDM di Bidang Jasa Konstruksi.

Berkaitan dengan “Bangkit Baja Indonesia” dalam rangka peningkatan SDM dan sosialisasi informasi teknologi bidang baja Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI) yang didukung SteelIndonesia.com akan melakukan road show ke 100 perguruan tinggi di Indonesia dimulai pada bulan Oktober pada tahun 2009, dengan harapan bahwa mahasiswa dan dosen akan lebih dekat dengan baja dan akan memperbesar komunitas baja di Indonesia. Hal ini sebagai bentuk perwujudan nyata links and match antara asosisasi dan perguruan tinggi.

SKA dan SKT  dapat ditempuh di asosiasi profesi, namun demikian diperbolehkan perguruan tinggi menyelenggarakan sertifikasi SKA dan SKT sepanjang aturannya terpenuhi. Perguruan Tinggi yang akan menyelenggarakan sertifikasi tentunya harus membentuk Badan Sertifikasi Keahlian (BSA) atau Badan Sertifikasi Ketrampilan (BSK). Perguruan Tinggi yang telah mempunyai BSK antara lain Politeknik Negeri Jakarta dan politeknik negeri lainnya.

Oleh karena itu  dalam menyikapi keadaan seperti di atas diperlukan kepedulian semua pihak termasuk kebijakan pemerintah untuk mendorong sinergi antara asosiasi profesi dan perguruan tinggi. Pada umumnya asosiasi profesi adalah organisasi yang pengurus dan anggotanya telah bekerja di bidangnya,  dan mereka telah banyak memiliki berbagai pengalaman kerja dalam menghadapi persoalan serta kasus yang terjadi di lapangan.

Potensi dasar yang telah dimiliki oleh asosiasi profesi, industri, instansi pemerintah dan perguruan tinggi menjadi modal untuk mendorong “Bangkit Baja Indonesia”. Dengan komitmen semua pihak terhadap perkembangan industri baja semoga bangsa dan negara Indonesia dapat lebih maju dan dapat mensejahterakan masyarakat pada umumnya serta dapat berdiri sejajar dengan negara dikawasan regional dan internasional.

Ditulis, di Depok, 3 Agustus 2009

Kusumo DS.


Responses

  1. […] II. Pathways and offer education related to the field of steel. Implementation of national education based on the Pancasila and the Constitution of the Republic of Indonesia Year 1945. National Education functions to develop skills and form the character and civilization of the nation’s dignity in the context of the intellectual life of the nation, aimed at developing the potential of learners in order to become a man of faith and fear of God Almighty, noble, healthy, knowledgeable, skilled, creative , independent, and become citizens of a democratic and responsible. a. Education Path Area of skills and expertise of steel should be pursued through education: A. formal education, 2. nonformal, and 3. informal. Explanation of each field as described below. A. Formal education pathways For the formal education field course can be started from the steel ladder: 1) Secondary education Vocational High School is: A. SMK Department of Engineering, 2. SMK Shipping, 3. SMK Automotive 4. SMK Building 5. And other vocational areas to concentrate on steel 2) Higher education. A. Polytechnic and Diploma: D1, D2, D3 and D4 with majors related to the steel work. Such as: Department of Civil Engineering, Department of Engineering, Department of Boating and so on. 2. Polytechnic Diploma specialized field of study and steel industry (in the form of the proposal) for example: iron ore Processing Department, Department of Steel Construction, Steel Business Programs etc.. 3. Vocational education program areas of the steel service lines 4. Universities, institutes and High School: S1, S2 and S3 with the department: • Faculty of Engineering: Department of Metallurgy, Department of Industrial Engineering, Department of Civil Engineering • Faculty of Mathematics and Natural Sciences: Department of matrial, etc. On Line Colleges dikewajibkan hold Tri Darma University: education, research, and community service. In the implementation of formal education, the Polytechnic Education Specialist (Ir.Hadiwaratama, MSc.E) in Indonesia, has made the concept of concentration for each type of education. Of the concept is particularly suitable when the steel was developed areas of education development in Indonesia. Academic pathway ranging from Strata! Strata III concentrate to do the resarch and development of steel from upstream to downstream, while the polytechnic and its other Diploma engineer engeneering & Development as well as developing the design. In addition to the technical colleges can undertake production and manufacturing process. By performing concentration of steel in the field of education colleges like the one above, the role of higher education will be very visible in the field of human resources in the provision of expert and professional steel. Implement the required steel area of education comitment of all parties and elements, the concept of steel school if you want to be developed in Indonesia certainly needed benchmarking on the country’s steel industry has developed and propagated in the open lane or polytechnic education, or vocational school diploma. The main difference between the polytechnic academic education, vocational diploma and lies in the expertise of its graduates to achieve. Graduate education is more oriented toward mastery of academic science in theory, while graduates of polytechnic education, vocational diplomas and more on mastering the practice of science is concerned. 2. Non-formal education Organized non-formal education for the citizens who need educational services field from upstream to downstream steel that serves as a substitute, supplement, and / or complement to formal education in order to support life-long education. Work to develop the potential of non-formal education learners with an emphasis on the mastery of knowledge and functional skills and professional attitude and personality development in the field of steel. Nonformal education include: A. institute courses, 2. training institutions, 3. study groups, 4. community learning centers And training courses were organized for people who need sufficient knowledge, skills, life skills, and attitudes to develop themselves, develop a professional, working, independent business, and / or continue their education to a higher level. The results can be appreciated nonformal education comparable to a formal education program after going through the process of equalizing assessments by agencies designated by the Government or Local Government with reference to national standards of education, education julur can be used to obtain professional certification of skills and expertise areas of steel. 3. Informal education Informal educational activities undertaken by the family and the environment form of independent learning activities. The results of informal education is recognized as the formal and nonformal education after students pass the exam in accordance with national education standards. The essence of the role of universities in improving human resources in the field of steel and steel construction industry is how to prepare human resources that have life skills, able to process natural resources in the field of steel from upstream to downstream with entrepreneurial skills. The concept Brolin (1989) in interpreting the life skills that Life Skills is the interaction of different knowledge and skills so that one is able to live independently. Understanding of life skills not merely to have a certain ability (vokational job), but also has the ability to support a functional basis such as: reading, writing and arithmetic, formulate and solve problems, manage resources, work in groups, and using technology. While Barrie Hopson and Scally (1981) suggested that self-development of life skills is to survive, grow, and grow, have the ability to communicate and relate well to individuals, groups or through the system in a given situation. From the definition above, it can mean that life skills education in the field of steel is a skill that is based on the matrial is practically made of steel can equip students to address various issues of life and the life. That skill knowledge concerning aspects of steel technology, the attitude that includes physical and mental, as well as vocational skills, entrepreneurship skills related to moral development of students so as to face the demands and challenges of life in life. In some developed countries, believes that programs such as education pathways polytechnic, vocational diploma and is a mainstay. That is, become the foundation for the country in building a working system that can successfully enter the global competition. With skill-based programs and advocacy work, many countries managed to develop their economy and many jobs filled knowledgeable personnel vocational knowledge. III. Certification and Professional Association. Human resource development in Indonesia is not only the responsibility of the Ministry of Education alone but the responsibility of industry and professional associations. The present work are not enough people with college admission a diploma, but college graduates still have to be measured kopetensinya level, otherwise the certificate of expertise / skills dikelurakan by the agency appointed by government and professional associations as the organizer. In the supply of qualified human resources and efficient in the age of globalization is becoming very important for Indonesia country, why is that, because of the agreement between the countries within the framework of General Agreement on Trade in Services (GATS). With GATS countries can negotiate market-opening negoisiasi in this case is included in services, therefore if the Human Resources (HR) service sectors in Indonesia will not improve the quality of human resources can not compete with other countries that already have a standard of competence (certified expertise / skills) As the field of construction services is the scope of work that has its own characteristics, this area requires human resources that have a high innovation, the use of advanced technology continues to evolve, the use of good management systems management and control of hazards and accidents. To get quality work, efficiently without any accident would have required human resources competence and integrity. The way in getting qualified human resources and standards of competence by the profession in the service sector construction activities are needed to encourage stakeholders, universities, professional associations, LPJK, BNSP and expertise of the certificate holder (SKA) and a certificate of skills (SKT) has always been to develop themselves follow Recognation Mutual Agreements (MRA) which is manifested in the form of ASEAN Chater Professional Engineers (ACPE) or other international bodies. At the January 2010 ASEAN next year, including Indonesia, ASEAN has agreed to impose liberalization of services areas, including areas of construction and Flight Services. In the field of construction services this means that the company’s workforce ASEAN and ASEAN are allowed to work anywhere in the ASEAN region has a certificate of origin / ketrampil. Indonesia expects that the implementation of this MRA in ASEAN, the Indonesian construction workers are skilled can find work in other ASEAN countries. But the converse is also true, namely that the ASEAN construction workers were also allowed to work in Indonesia has a certificate from a standard of expertise and skills. Construction worker employment rate of the lower level to the level of the various fields of production manager, marketing and sales, is the scene in Indonesia where workers will have to compete in Indonesia alone, with the possible influx of competitors from residents of ASEAN countries. In addition, the issue of salary will certainly be the thing that attracts attention. However, the solution above problems need to be prepared from now on include done studies and synergy between the Association of Professional and Higher Education in Quality Improvement of human resources in the field of Construction Services. In connection with the “Rising Steel Indonesia” in order to improve dissemination of information technology and human resources areas of steel Steel Community Association of Indonesia (Ambi) supported SteelIndonesia.com will conduct road shows to 100 universities in Indonesia began in October in the year 2009, with the expectation that students and lecturers will be closer to the steel and steel will increase the community in Indonesia. It is a form of tangible embodiment links and match between asosisasi and colleges. SKA and SKT can be reached at professional associations, however, allowed colleges and SKT SKA hold certification throughout the rules are met. Higher Education which will conduct the certification course should form a Board of Certification Areas (BSA) or Skills Certification Board (BSK). Universities that have had such BSK Jakarta State Polytechnic and other polytechnics country. Therefore, in addressing the situation like the one above takes care of all parties including government policies to encourage synergies between professional associations and universities. In general, professional association is an organization which the board and its members have worked in the field, and they have a lot of work has a wide experience in dealing with issues and cases that occurred in the field. Basic potential that has been owned by professional associations, industry, government agencies and universities into the capital to promote “Rise Steel Indonesia”. With the commitment of all parties to the development of the steel industry and the nation state of Indonesia may be more advanced and prosperous society in general and can stand in line with the region’s countries and internationally. sumber :: https://beamnews.wordpress.com/2009/08/07/peranan-perguruan-tinggi-dalam-meningkatkan-sumber-daya-man… […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: